-->
    |

Kapan Nobel Sastra Untuk Kawasan Asean?

Faktanews.id - Sejak 1901 hingga 2020, sudah 117 tokoh mendapatkan penghargaan Nobel Sastra. Mengapa tak satu pun dari 117 tokoh itu berasal dari kawasan ASEAN? (1)

Perancis menyumbangkan pemenang Nobel Sastra paling banyak: 17 tokoh.  Pemenang Nobel Sastra pertama di tahun 1901 dari Perancis: Sully Prudhomme.

Nama sastrawan itu tak lagi banyak dibicarakan. Tapi pemenang dari Perancis yang lain masih terdengar: Albert Camus (1957), dan Jean Paul Sartre (1964).

Amerika Serikat menyusul di tempat kedua: 12 tokoh. Antara lain: Pengarang Lagu Bob Dylan (2016), John Steinbeck (1962), dan Ernest Hemingway (1954).

Inggris di tempat ketiga menyumbangkan 11 tokoh. Termasuk yang menerima Nobel Sastra: Perdana Menteri Winston Churchill (1953), Pemikir dan Aktivis Sosial Betrand Russel (1950) dan TS Eliot (1948).

Cukup banyak juga pemenang Nobel Sastra dari Jerman. 10 tokoh. Misalnya: Gunter Grass (1999).

Swedia selaku negara pemberi Nobel, menyumbangkan 8 tokoh. Misalnya Tomas Transtomer (2011).

Lima negara di atas, jika digabung, menyumbangkan 58 tokoh dari 117 Nobel Sastra. Sekitar 50 persen pemenang dari lima negara itu.

Mengapa tak ada sastrawan ASEAN yang pernah mendapatkan Nobel? Bukankah  10 negara ASEAN ini, dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, hingga Burma, total penduduknya, 661 milyar, banyak sastrawan berbakat?

India menyumbangkan satu sastrawannya: Rabindranath Tagore (1913). Jepang punya Yasunari Kawabata (1968). Chili menyumbangkan sastrawannya Pablo Neruda (1971). 

Columbia punya Gabriel Garcia Marquez (1982). Bahkan Nigeria juga pernah mendapatkan Nobel Sastra: Wole Soyinka (1986). Mesir memiliki Naguib Mahfouz (1988). Turki pun punya Orhan Pamuk (2006).

Kekayaan kultural Negara ASEAN tidaklah kalah. Sastrawan yang lahir di kawasan ini cukup banyak. Kurangkah bakat mereka? Atau yang kurang adalah diplomasi budaya untuk meyakinkan panitia Nobel?

-000-

Renungan di atas lahir setelah tiga hari ini saya mendapatkan banyak ucapan selamat. Itu suasana setelah saya menerima Penghargaan Sastrawan Tingkat ASEAN dari Malysia di era Pandemik, Maret 2021.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Kota Kinabalu, 15 Maret 2021, membuat pengumuman di Facebook resminya.

“Penyair Indonesia Menerima Anugrah Sastra Kemanusiaan dan Diplomasi ASEAN dalam Festival Penulis Sabah 2021.”

Teks resmi itu juga mengumumkan, Pejabat Konsul Jenderal RI Debbi Oktarossa, mewakili Denny JA menerima langsung hadiah itu dari Menteri Pembangunan Masyarakat YB Tuan Haji Ir. Shahelmey Bin Yahya.

Apa penyebab penghargaan ini? Teks resmi itu menuliskan: “Denny JA mempelopori lahirnya Puisi Esai  yang kini mulai meluas ke kawasan ASEAN.”

Sebelumnya saya juga menerima kiriman yang penuh kejutan dari Datuk Jasni Matlani. Sedang direnovasi gedung, di Kota Kinabalu, Malaysia, yang salah satu fungsinya nanti menjadi Rumah Puisi Esai ASEAN.

“Wow!” gumam saya di hati. Puisi esai yang saya lahirkan di tahun 2012, di tepi sungai kecil, di vila saya di Mega Mendung, ketika saya mulai jenuh dengan puluhan riset kuantitatif,  berkembang, kini akan menjadi kegiatan tahunan ASEAN?

-000-

Selaku peneliti, saya pelajari mengapa seseorang mendapatkan Nobel Sastra.

Terdapat dua pola. Pertama, itu disebabkan oleh murni pencapaian estetik, atau kepeloporan dalam “gaya dan genre,” karya sastra. 

Kedua, itu disebabkan juga oleh non- karya sastra, tapi kegiatan kreatif perjuangan kemanusian, yang dianggap bernilai sastra.

Pola pertama itu tentu yang paling dominan yang menyebabkan seseorang mendapat anugrah Nobel Sastra.

TS Eliot (1948) dan William Faulkner mendapatkan Nobel Sastra karena kepeloporannya dalam gaya penulisan puisi (TS Eliot) dan novel modern (Wiliam Faulkner).

Sedangkan Ernest Hemingway (1954) layak mendapat anugrah karena pencapaian estetiknya (his mastery of the art of narrative). Terutama dalam karyanya: the Old Man and the Sea.

Ada pula pola kedua. Misalnya Perdana Menteri Winston Churchill (1953). Ia mendapatkan anugrah sastra bukan karena karya novel, atau puisi, atau drama. 

Churchill mendapatkan hadiah itu karena perjuangan kemanusiaan. Itu tergambar dari aneka pidatonya yang retorikanya bernilai sastra. Pun tergambar dari buku dokumentari perang yang juga dianggap berkualitas sastrawi.

Betran Russel (1950) pun sama. Ia dianggap berjasa mengembangkan pemikiran dan esai yang memperjuangkan nilai kemanusiaan dan kebebasan.

Buku non-fiksi ataupun esainya dianggap bernilai sastra.

Bob Dylan (2016) pun pernah mengekspresikan keheranannya mendapatkan Nobel Sastra. Ujar Dylan, saya tak pernah membayangkan mendapat nobel sastra sebagaimana saya tak pernah membayangkan mendarat di bulan.

Bob Dylan memang tak pernah menulis karya selayaknya sastrawan konvensional. Tapi aneka lirik lagunya dianggap bernilai puitis.

Tokoh di ASEAN bisa dinominasikan juga untuk Nobel Sastra, melalui dua pola  itu, atau kombinasi kedua pola.

Itu bisa karena kepeloporannya dalam gaya penulisan puisi atau novel. Bisa juga karena pencapaian estetiknya.

Bisa juga karena Ia penulis, pemikir, aktivis kemanusiaan dan kebebasan, yang karyanya dianggap bernilai sastra.

Untuk kasus Indonesia, penulis yang membuat kepeloporan dalam jenis puisi atau novel, yang juga gigih memperjuangkan kemanusiaan, atau berkembangnya Islam yang moderat, agama dengan interpretasi modern, cukup potensial dan seksi dipromosikan kehadapan panitia Nobel.

Memenangkan kawasan ASEAN untuk Nobel Sastra dapat pula dijadikan program khusus bagian dari diplomasi budaya. Promosi kultural.

Panitia Nobel pun berkepentingan agar Nobel Sastra juga datang pada semakin banyak wilayah. Termasuk ASEAN.

Kapankan Nobel Sastra akhirnya datang ke kawasan ASEAN? Sebagian jawaban itu ada di tangan aktivis budaya, pemikir, penulis bahkan pemimpin politik untuk mempromosikannya.

Membaca jejak 117 penerima Nobel Sastra, sisi diplomasi, lobi dan “marketing” ikut pula berperan.***

Oleh: Denny JA

Komentar Anda

Berita Terkini