|

Ilmu Pengetahuan dan Ulama

Faktanews.id - Seperti yang disampaikan oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitabnya Sirr al-Asrar wa Muzhir al-Anwar, tidak disangsikan lagi bahwa "ilmu pengetahuan adalah keutamaan yang paling mulia, martabat yang paling luhur, kehormatan yang paling indah, dan perdagangan yang paling menguntungkan".

Allah swt memilih secara khusus manusia yang diberi-Nya hidayah dan karunia berupa ilmu pengetahuan, karena mereka adalah para pewaris Nabi dan pemimpin dari kaum muslimin, sebagaimana firman-Nya:

"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih, lalu diantara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang lebih dulu berbuat kebajikan" (QS. Fushilat (35):32).

Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

"Ulama adalah pewaris para Nabi (lantaran ilmu yang mereka miliki). Mereka dicintai dan senantiasa didoakan oleh "ikan-ikan yang berada di Samudera" hingga hari Kiamat (tiba)".

Beliau juga bersabda: "Pada hari kiamat nanti, Allah swt membangkitkan semua hamba-Nya. Kemudian Dia memisahkan para ulama di antara mereka. Lalu Dia berkata: "Wahai sekalia ulama, Aku tidak menitipkan ilmu-KU kepada kalian melainkan karena Aku mengetahui betul siapa kalian. Aku menitipkannya kepada kalian bukan untuk menyiksa kalian. Sekarang, masuklah kalian ke surga karena Aku telah mengampuni semua dosa kalian".

Rasulullah Muhammad saw juga bersabda:

"Yang pertama kali diciptakab Allah adalah Rohku, yang pertama kali diciptakan Allah adalah cahayaku, yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena, dan yang pertama kali di ciptakan Allah adalah akal.

Allah swt berfirman:

"Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan (QS. al-Maidah (5): 15).

Beliau (Muhammad) disebut "akal" kerena secara umum akal digunakan untuk mengetahui sesuatu; disebut  pena karena pena adalah media untuk menyampaikan ilmu, seperti halnya pena untuk memindahkan ilmu dalam bentuk tulisan. Jadi roh Muhammad adalah intisari alam semesta, ciptaan yang pertama ada asal semua ciptaan sebagaimana tersirat dalam sabdanya:

"Aku berasal dari Allah dan kaum Mukmin berasal dariku".

Dari roh inilah semua arwah diciptakan di alam Ketuhanan--yang merupakan negeri asal-- dalam bentuk hakikat yang bersifat non eksisten. Kemudian roh ini ditempatkan ke jasmani yang merupakan bentuk ciptaan paling rendah, sebagaimana tersirat dalam firman Allah swt:

"Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya" (QS. At-Tin (95): 5).

Dijelaskan oleh Syeikh Abdul Qadir Al Jailani tentang maksud ayat ini bahwa Allah swt menurunkan mereka dari alam Ketuhanan ke alam jabarut (Kemahakuasaan/Qudrah), lalu menghiasi mereka dengan cahaya Kekuasaan-Nya sebagai pakaian mereka diantara dua kesucian yang disebut dengan ruh sulthani. Dengan pakaian tersebut, Dia menurunkan mereka ke alam Kerajaan Bathiniah. Lalu membungkus mereka dengan cahaya kekuasaan yakni ruh rawwani, dan menurunkan mereka ke alam Kerajaan Lahiriah dan membungkus mereka dengan ruh jasmani. Setelah itu, barulah Allah swt menciptakan jasad sebagai tempat bagi arwah tersebut sebagaimana firman-Nya:

"Dari Bumi itulah Kami menciptakan Kalian" (QS. Thaha (20): 55).

Kemudian memberi perintah kepada Ruh untuk memasuki jasad yang telah ditentukan baginya sebagaimana firman-Nya:

"Dan Aku telah meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan-Ku)..."(QS. Al-Hijr (15): 29).

Ketika arwah telah memasuki jasad, ia melupakan perjanjian yang telah ditetapkan dihadapan Allah swt pada saat Dia bertanya "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" (QS. Al-Araf (7):172).

Sehingga tanpa bimbingan mereka tidak dapat kembali ke negeri asal. Namun Allah swt menyayangi mereka, sehingga Dia pun menurunkan Kitab untuk menjadi pedoman bagi mereka.

Allah swt berfirman:

"Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah" (QS. Ibrahim (14): 5).

Kondisi ini terus berlangsung hingga datang Muhammad saw mengajak mereka bersatu dengan-Nya dan menjumpai keindahan-Nya sebagaimana tersirat dalam firman-Nya:

"Katakanlah "Inilah jalan (agama) ku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan bashirah". (QS. Yusuf (12): 108).

Bashirah adalah penglihatan para Nabi daj Waliullah yang memungkinkan mereka menerima pengetahuan yang bersifat bathin, tanpa mereka usahakan (ladunni), sebagaimana tersirat dalam firman-Nya:

"Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami" (QS. Al-Kahfi (18): 65).

Ketahuilah, ilmu yang diturunkan kepada kita ada dua macam: zhahir dan bathin, yakni Syariat dan Makrifat. Allah swt memerintahkan Syariat untuk zhahir kita dan ma'rifat untuk bathin kita, agar penggabungan keduanya dapat menghasilkan ilmu hakikat. Allah swt berfirman:.

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing" (QS. Ar-Rahman (55):19-20).

Keduanya mesti digabungkan agar mencapai hakikat pengetahuan. Allah swt berfirman:

"Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka menyembah-KU" (QS. Adz-Dzariyat (51):56).

Tanpa menggabungkan keduanya, maka seseorang akan kesulitan menjalankan ibadah yang merupakan tujuan dari penciptaannya.

Dengan ilmu hakikat yang diperolehnya dari penggabungan dua ilmu tersebut, orang yang berilmu akan mengetahui khasanah dari rahasia yang tersembunyi sebagaimana dalam suatu hadits Qudsi dikatakan:

"Aku adalah khasanah yang tersembunyi dan Aku suka untuk dikenal, maka Aku ciptakan makhluk agar Aku dikenal".

Hadits Qudsi ini, digunakan oleh semua para waliullah. Misalnya oleh Ibn Arabi maupun Jalaluddin Rumi dan lainnya.

Dengan mengenal "Khasanah Yang Tersembunyi" inilah seseong lalu bermakrifat kepada-Nya. Baik bermakrifat melalui sifat-Nya maupun melalui Dzat-Nya. Untuk hal ini Allah swt menambahkan kemampuan rohnya. Allah swt berfirman:

"...Dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus...." (QS. Al-Baqarah (2):87).

Sebab itu ilmu ada yang bersifat lisan, dan ini akan dijadikan hujjah oleh Allah swt di hadapan manusia. Dan ilmu batin, ilmu inilah sesungguhnya yang berguna. Karena inilah yang mampu mengantarkan kepada Tauhid dan membimbing manusia mengikuti ajaran para Nabi dan Rasul-Nya. Allah swt berfirman;

"...Maka, orang-orang yang mengharap perjumpaan dengan  Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan Allah dalam beribadah kepada-Nya". (QS. Al-Kahfi (18): 110).

"Wajah-wajah orang mukmin pada hari ity berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka melihat". (QS. Al-Qiyamah (75):22-23).

Semoga Allah swt senantiasa memberikan Hidayah-Nya, membimbing kita dengan Ilmu-Nya.

Oleh: Hasanuddin

Penulis Tinggal Di Depok, Jawa Barat
Komentar Anda

Berita Terkini