|

Diskusi PGK, Azyumardi Azra Paparkan Terjadinya Kekacauan Dalam Bidang Agama Di Tengah Pandemi

Faktanews.id - Guru Besar UIN Jakarta Azyumardi Azra mengatakan, pandemi covid-19 tidak hanya membuat kekacauan dalam bidang ekonomi, kesehatan, politik, budaya, tapi juga soal praktik tentang keagamaan. Kekacaun dalam bidang praktik keagaman tersebut disebabkan beberapa hal dan hal itu terkait dengan keimanan dan teologi, seperti rukun Islam yang ke dua.

"Kekacauan dalam bidang keagamaan, misalnya saja, kalau dalam Islam itu menyangkut sebetulnya jika rukun Islam, misalnya shalat, terutama soal salat yang dikerjakan secara berjamaah baik pada salat Jumat, tarawih, atau salat Idul Fitri atau Idul Adha nanti, dan salat lima waktu yang dikerjakan di Masjid, itu harus diminta dikerjakan di rumah. Karena kalau di kerjakan ramai-ramai itu kemudian bisa mengakibatkan terjadinya penularan covid ini." ujar  Azyumardi.

Hal tersebut disampaikan Azyumardi ketika menjadi pembicara webinar bertajuk "Pandemi Covid-19 dalam Perspektif Agama dan Kebudayaan", Selasa (7/7/2020) malam.  Pembicara webinar yang diinisiasi DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) juga adalah Cendikiawan Yudi Latif, Cendikiawan Daniel Dhakidae, dan Budayawan Radhar Panca Dahana. Sementara yang memandu jalannya Webinar adalah Ketua Umum PGK Bursah Zarnubi.

Begitu juga dengan pelaksanaan rukun Islam yang kelima, ibadah Haji. Diketahui, pemerintah Indonesia telah memutuskan untuk meniadakan ibadah haji dan umroh tahun ini karena pandemi Covid.  "Soal naik haji juga. Haji dan umroh tidak ada. travel itu dibatalkan. saya kira travel keagamaan juga terjadi kekacauan," katanya.

Hal yang sama juga terjadi pada pelaksanaan rukun Islam yang ke empat, tentang zakat, infak dan sadakah. Semua kekacauan pelaksanaan praktik ritual keagaamaan itu, kata dia, bukan berarti terjadi deritualisasi

"Ibdah tidak ditinggalkan. Itu cuma dialihkan tempatnya melalui doktrn keagamaan baru, melalui ijtihad baru, keputusan-keputsan baru. Jadi sama sekali tidak terjadi deritualisasi. Karena ritualnya tetap ada cuma dikerjakan di rumah. Mungkin kalau sekarang dikerjakan di Masjid tetap dikerjakan di masjid. Tapi harus jarak-jarak, jaraknya harus lebar lebar walaupun sebetulnya dalam ketentuan dalam Islam, shalat itu harus rapat. Tapi tdak boleh. Jadi tidak terjadi deritualisasi cuma peyesuaian, iya, penyesuaian pelaksanaan ritual," katanya.
]

Azyumardi menambahkan, jika ada perbedaan pandangan pemimpin agama terkait ritual keagamaan ini, hal itu disebabkan karena perbedaan mazhab. Hanya saja, lanjut Azyumardi, mayoritas umat Islam sebagai penut Asy'ariyah dan Jabariyah, yang disebut dalam rukun Iman dan Islam sebagai kredo Islam yang keenam, yang percaya Qada dan Qadar
]"Jadi setiap orang itu sudah digariskan kehidupannya, tinggal dia menjalaninya saja. Jadi oleh karena itu tidak usah takut sama Corona. Salat saja di Masjid, kok takutnya sama corona, takutnya sama Tuhan. itu kan teologinya begitu, teologi Asyariah dan Jabariyah itu," tambahnya

Fenoma seperti itu, menurut Azyumardi, tidak hanya berlaku di kalangan umat Islam, tapi juga di kalangan Gereja, agama Kristen atau Katolik. Fenomena semacam ini dapat dilihat di Negara Amerika Serikat.

]"Kalau kita lihat misalnya apa yang terjadi di Amerika juga banyak itu orang-orangkristen fundamentalis menolak mematuhi (protokol kesehatan), kok kita di larang-dilarang gitu. kalau kita mau mati ya mati saja. Jadi saya kira agama-agama samawi, agama-agama Ibrahimy, terutama kristianitas dan Islam memang menghadapi kecanggungan-kecanggungan dalam menghadapi corona ini, walaupun kemudian saya kira yang tidak mampui mengatasi kecanggungan itu menjadi splinter. Kalau yang maintrem itu kemudian menyesuaiakan diri, mengeluarkan pemikiran-pemikiran baru, ketentuan-ketentuan baru atau ijtihad-ijtihad baru yang membuat praktik keagamaan itu bisa tetap jalan," katanya.

Azyumardi juga menyoroti ada perbedaan pendapat di kalangan umat Islam terkait tata cara mengurus janazah.  Menurut dia, ada empat hal yang harus dilakukan dalam mengurus janazah dalam ajaran Islam. Sebagai fardu kifayah, janazah harus dimandikan, dikafani, disalatkan dan dikuburkan. Namun, berbeda tata cara mengurus janazah yang terinfeksi Covid-19.

"Nah kalau kita lihat apa yang terjadi orang memaksa melarikan janazah. Kemarin saya lihat di Mataram itu sampai ratusan orang itu tidak bisa polisi mencegahnya. Itu saya kira karena dokrin itu, karena banyak orang Islam itu sangat legalistik, legalistik bahwa janazah itu harus dimandikan. Yang kemarin di Mataram itu juga begitu, dibuka lagi itu dan dikafani, tidak peduli mereka mau ketularan Cotona atau apa. Jadi ini ketegangan-ketegangan seperti ini," katanya.

Pro-kontra terkait tata cara penanganan janazah di masa pandemi ini, menurut Azyumardi, juga disebabkan merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan tenaga medis. Banyak masyarakat yang tidak percaya pada pengobatan modern. Mereka memilihnya lebih percaya pada dukun atau orang pintar yang dianggap mempu mengobati virus Covid-19.

"Misalnya juga tidak percaya pada pengobatan modern, akhirnya lari kepada perdukunan, termasuk minyak yang mau digantungkan di leher yang tidak masuk akal. Jadi kita lihat ada pertarungan antara dunia kedokteran yang rasional modern dengan dunia perdukunan. Itu yang mencerminkan budaya orang indonesia yang suka menempuh jalan pintas. Jadi itu yang saya lihat walapun yang mainstrem atau arus utama agar umat di Indonesia tidak seperti itu. Bahkan praktik keagamaan menjadi kluster penurunan corona itu juga terjadi di mana-mana. misalnya, di Korsel, itu kan munculnya dari gereja, gereja yang enggak percaya akan corona akhirnya menyebar kemana-kemana. Begitu juga di Indonesia misalya kita lihat itu cluster dari orang-orang jamaah tabligh, jamaah tabligh yang pulang dari Selangor atau orang-orang jamaah tabligh yang kumpul-kumpul akbar di Gowa misalnya. Itu jadi tempat penularan. Jadi itulah," katanya. (FKT)
Komentar Anda

Berita Terkini