|

Hentikan Memprovokasi Masyarakat

(Diskusi: Memotret Peristiwa Kerusuhan 22 Mei, Sebuah Refleksi, di Sekretariat DPP PGK)
Faktanews.id - Polarisasi masyarakat dianggap semakin tajam. Penyebabnya karena mayoritas masyarakat, khususnya anak-anak muda yang menjadi penerus bangsa, dianggap mudah terpengaruh terhadap pernyataan sejumlah tokoh politik yang membawa simbol-simbol agama.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Najih Prasetyo pada acara Buka Bersama dan Tausyiah Kebangsaan bertajuk "Memotret Peristiwa Kerusuhan 22 Mei, Sebuah Refleksi" di Sekretariat Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), Jakarta Selatan, Jumat (31/5/2019).

Najih menyebut ada sejumlah tokoh politik yang sering membawa simbol-simbol agama. Mereka seolah menjadi representasi umat. Padahal mereka ini merupakan pandatang baru dalam konteks gerakan keagamaan di Indonesia.

"Dalam konteks itu hampir mayoritas tokoh-tokoh islam itu justru kiblatnya tehadap orang-orang baru yang membawa simbol-simbol Islam. Tokoh ini simbol-simbol baru, simbol kekuatan yang menganggap mereka representatif. Ini berbahaya," ujar Najih.

Menurut Najih, mestinya umat Islam lebih banyak mendengarkan penyataan-pernyataan ulama yang peranannya sudah terbukti membangunkan kesadaran masyarakat tentang kebangsaan.

"Banyak tokoh-tokoh yang bermunculan tanpa terdeteksi sebelumnya bagimana dan kepentingan politiknya bagaimana. Kenapa dia bisa menjadi tokoh centeral dalam gerakan yang mengatasnamakan Islam. Ini kan yang belum ditracking anak-anak muda. Ini berbahaya menurut saya," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Ketum PB HMI, Saddam Al Jihad. Saddam menyoroti soal fenomena hoaks, provokator, people power yang berujung pada aksi demonstrasi 21-22 Mei lalu. Belakangan ini polarisasi masyarakat semakin terlihat yang dibarengi dengan momentum demokrasi. Menurutnya, jangan sampai ruang publik diisi dengan narasi-narasi yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.
"Hati-hati diprovokasi, ruang publik jangan disalahgunakan. Yang tadinya jadi alat kritik menjadi akat kerusuhan," katanya.

Selain itu, Saddam juga menyangkan adanya wacana refrendum yang digaungkan oleh sekolompok orang. Refrendum yang digaungkan di ruang publik, merupakan penggiringan opini yang tak dapat dibiarkan. Karena itu, Saddam mengajak generasi muda tenang dan tak terprovokasi terhadap isu-isu yang mengancam masa depan bangsa.

"Saya sebagai Ketum PB HamI mengajak genrasi milenial memikirkan masa depan kebangsaan kita," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP GMNI Robaytullah K. Jaya, mengatakan rakyat kerap menjadi korban dari provokasi elit politik. Hal itu terlihat dari peristiwa kerusuhan dan kekerasan pada aksi demonstrasi 21-22 Mei lalu karena termakan isu people power.

"Itu bukn gerakan people power karena syarat meterialmya tidak ada, apalagi hanya segelintir orang hanya karena perbedaan pemilu. Saya mengamati, yang saya sayangkan itu banyak pendemo tidur di trotoar jalanz tidur di amasjid, tapi elitnya tidur Hotel Bitang lima. Saya menyaksikan Neno Warisman keluar dari Hotel Sarifan Pasifik," tanda dia.

Lebih lanjut, dia menegaskan dirinya bersama Kolompok Cipayung Plus akan terus memberikan advokasi sehigga masyarakat tidak termakan provokasi dan hoaks.

"Kami akan memberikan informsi yang sesuai dengn keadaaan. Biar masyarakat mendapat informasi yang sebenar-benarnya," katanya. (RF)
Komentar Anda

Berita Terkini