|

Ini Tawaran Pakar Arsetektur Perkotaan ITB untuk Atasi Banjir Jakarta

Faktanews.id - Bencana banjir di Jakarta dianggap cukup memprihatinkan, karena siap bencana ini datang menimbulkan kerugian yang sangat besar, baik yang dialami warga, pelaku usaha, maupun membengkaknya pengeluaran anggaran pembangunan serta rusaknya berbagai prasarana umum yang dikelola pemerintah.

Hal tersebut disampaikan pakar Arsetektur Perkotaan ITB Jehansyah Siregar dalam diskusi bertajuk "Bagaiman Mengatasi Banjir Jakarta" di Omah Cafe Dedung Juang, Jakarta Pusat, Jumat (3/5/2019).

Menurut dia, sejak 15 tahun terakhir ini berbagai upaya tanggap darurat sudah dilakukan namun masalah banjir tak kunjung tuntas dan terus menerus menimbulkan kerugian dan mengancam keselamatan warga. Lalu apa sulusinya?

"Kita perlu menyadari bahwa curah hujan tinggi pada musim penghujan yang menyebabkan kenaikan volume air di daratan, adalah sebuah fenomena alam. Volumen ini selalu menimbulkan genangan dalam kurun waktu tertentu, terutama di wilayah hilir yang rendah. Namun dalam beberapa hari genangan ini akan menyerap ke tanah dan mengalir ke laur. Demikianlah siklus air di alam ketika curah hujan tinggi pada musim hujan," katanya.

Solusi kedua untuk mengatasi banjir ini, Jehansyah mengatakan untuk menghadapi air yang selalu membawa terjangan air bah dari daerah penghujan di Bogor dan Cianjur, ditambah karakter topografi Jakarta, diperlukan strategi dan perencanaan sistem pengairan yang komprehensif di kawasan Jabodetabek.

Sebagai perbandingan, Jehandyah menyampaikan bajwa strategi dan perencanaan yang sama disusun oleh Belanda ketika merencana-kan Batavia (Jakarta Tempo dulu) sebagai kota pelabuhan dan perdagangan. Belanda sudah menyadari siklus air di Pulau Jawa menempatkan Batavia sebagai area terendam ketika musim hujan tiba, dimana 13 sungai di Jawa Barat dan Banten bermuara.

Namun, kata dia, karena lokasinya yang strategis sebagai kota pelabuhan besar bersama-sama  dengan Melacca dan Makasar, maka Belanda mengandalkan kanal-kanal seperti di Cideng, Gajah Mada,  Mookevart, dan sebagainya, termasuk dibangunnya situ-situ di sebelah Selatan, adalah perencanaan pengairan Batavia untuk penduduk sekitar 500 ribu jiwa.

"Kini penduduk Jakarta sudah mencapai sekitar 10 juta jiwa, maka seharusnya ada sistem hidrologis hingga 20 kali kapsitas yang telah dibangun Belanda. Namun sistem pengairan yang dibangun kemudian sangat jauh dari memadai untuk mengantisipasi terjangan air bah dari wilayah hulu di Bogor dan Cianjur. Inilah PR besar yang harus segera diselesaikan pemerintah RI melalui semua sektor dan semua tingkatan pemerintahan," katanya. (RF)

Komentar Anda

Berita Terkini