-->
    |

Kisah Penderita Covid-19, Yang Sempat Bernyanyi Menjelang Ajal Tiba

Faktanews.id - Mengharukan. Juga mencerahkan. Itulah ekspresi saya setelah menyelami saat-saat akhir Hendarmin Ranadireksa.

Di usia senja, 77 tahun, Hendarmin terkena serangan covid-19 yang akut. Ia hanya terbaring di ranjangnya. Di rumah sakit Dustira Cimahi, ia harus dirawat di ICU, unit perawatan intensif.

Di video itu, Hendarmin nampak tenang. Alat bantu pernafasan menempel di hidungnya.

Tak ada cara lain berkomunikasi dengan pasien Covid-19, kecuali lewat video call. Itu agar tetap bisa saling tatap mata. Saling menyelami ekspresi, saling menenangkan, walau hanya lewat layar Handphone.

Istri Hendarmin, Yani, menghibur suaminya lebih jauh. Hendarmin hobi menyanyi. Passionnya, kegembiraanya meluap jika bernyanyi.

Dari handphone, dari rumah, lewat video call, istrinya, Yani, mengajak Hendarmin berduet. 

Melalui handphone jarak jauh, suami istri ini saling menghibur. Tidak lagi lewat kata. Tapi lewat lagu.

Mereka menyayikan lagu The Prayer. Ini lagu yang aslinya dibawakan oleh Andrea Bocelli dan Celione Dion.

Dengan susah payah, tapi penuh antuasias, penuh kasih, Hendarmin mengimbangi suara emas istrinya, Yani.

Saya pun mendengar alunan duet itu:

I pray you'll be our eyes

And watch us where we go

And help us to be wise

In times when we don't know

Let this be our prayer when we lose our way

Lead us to a place

Guide us with your grace

To a place where we'll be safe

(Saya berdoa 

DiriMu menjadi mata kami

 Perhatikanlah kami 

kemanapun kami pergi

Bantu kami menjadi bijak

 Di saat kami tak tahu

 Biarlah Ini menjadi doa 

saat kami tersesat

 Pimpin kami ke suatu tempat

 Bimbing kami 

dengan rahmatMu

 Ke tempat dimana kami  damai)

Beberapa jam kemudian. Setelah duet yang direkam di Handphone. Hendarmin Ranadireksa wafat.

-000-

“Yani, itu memang penyanyi. Ia dulu aktif dalam grup Yanti bersaudara yang terkenal di tahun 60-an.”

Itu pesan yang ditulis oleh seorang teman kepada penulis, di japri WA

Saya pun searching di Google. Yanti bersaudara terdiri dari kakak beradik: Yani, Tina dan Iin. Setelah bubar di tahun 1971, Iin tetap meneruskan hobi menyanyi, bersama kakak lelakinya. 

Iin dan kakak lelakinya: Sam, Acil, Jaka, kemudian dikenal dengan nama Grup Bimbo. Grup ini juga sangat populer di tahun 70-80an.

“Yang ingin saya sharing,” lanjut teman ini di japri, “jika kita mengalami kebahagiaan yang otentik, penderitaan tubuh tak lagi menjadi penghalang.”

Duka yang diderita tubuh tak mengganggu keriangan. Jiwa tetap bahagia. “Sang jiwa mampu bernyanyi walau tubuh lemah.”

Video itu diposting putri Hendarmin satu-satunya, Dinda Gayatri Ranadireksa, di facebooknya. (1)

Dalam video itu, Hendarmin dalam usia senja, dalam tubuh yang melemah, masih mengeskpresikan keriangan, kasih, cinta.

Beberapa jam kemudian, Hendarmin wafat.

Ia menyambut sang ajal dengan ikhlas, menyempatkan diri bernyanyi dulu, berduet dengan istri tercinta.

-000-

Keikhlasan menyambut ajal. Keriangan menunggu datangnya nafas terakhir, banyak kita temukan pada mereka yang sudah berkelana jauh di dunia batin.

Penulis teringat kisah wafatnya OSHO (Bagwan Shri Rajneesh), tahun 1990.

Prosesi pemakamannya sungguh sangat berbeda. Pengikutnya malah suka cita. Mereka menari, menyanyi. Menggelar festival.

Di malam hari kembang api dinyalakan.

Penulis menyimak aneka ajaran OSHO soal kematian.

Ujar OSHO, selama ini kita mengembangkan pengertian yang salah tentang kematian.  (2). Umumnya kita menyambut orang-orang dekat menjelang ajal dengan batin yang duka.

Kepada para murid, OSHO menitip pesan. Ujar OSHO, “ketika nanti saya wafat,” jangan ada air mata. Jangan ada duka. Sebaliknya, sambut dengan sukacita. 

“Kematian itu,” ujar OSHO, bukan hanya penutup kehidupan. Ia puncaknya. Ia klimaksnya. Semua puncak, semua klimaks itu justru seharusnya penuh dengan kegembiraan, keriangan. Joy.

OSHO sendiri, menjelang ajal, walau ia sakit, ia acap mengekspresikan hati yang riang. Para murid yang datang menjenguk sudah dipesankan, walau tahu usia OSHO tak lagi lama, mereka harus bawa suasana bersyukur.

Bersyukur karena OSHO sang Guru tengah menuju Bab Puncak dari hidup: kematian.

Nikmatnya hidup penuh bermakna. Apalagi jika mengembangkan persepsi. Jika waktu kematian memang telah tiba, sambutlah dengan rasa bersyukur. Rasa berterima kasih. ***


Oleh: Denny JA

Komentar Anda

Berita Terkini