|

Komaruddin Hidayat: Perlu Strategi Menumbuhkan Kembali Identitas Nasional

(Prof. Dr. Komaruddin Hidayat saat bedah buku "Wawasan Pancasila" karya Yudi Latif, secara virtual)
Faktanews.id - Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (DPP PGK) menggelar bedah buku "Wawasan Pancasila: Bintang Penuntun Untuk Pembudayaan" karya Yudi Latif, Minggu (2/8/2020) malam, secara virtual.

Hadir sebagai pemicara adalah Guru Besar UIN Jakarta Prof. Dr. Komaruddin, Sosiolog UI Dr. Thamrin Amal Tomagola, Pengamat Bidang Militer Dr. Connie Rahakundini, Pendeta Dr. Martun L. Sinaga. Bedah buku dipandu oleh pengamat politik UKI Dr. Sidratahta Mukhtar dan Bursah Zarnubi sebagai host.

Komaruddin, mengatakan saat ini diperlukan strategi untuk mempekuat dan memperkokoh identitas nasional, meskipun Pancasila sebagai pemersatu bangsa sudah selesai. Sebab, Indonesia sebagai sebuah bangsa yang dicita-citakan belum selesai.

"Artinya kita membangun bangsa dan negara. Hidup ini diatur, disepakati, dipandu oleh nilai-nilai kebaikan, kemanusian, humanisme. Dan itu dirumuskan dalam pancasila. Nah jadi ke depan ketika nanti semakin muncul generasi baru, ketika dari etnisitas semakin kendor, sekarang ini kan ikatan etnis semakin kendor, kalau agama masih kentel. Nah sekrang bagaimana ke depan bahwa Pancasila inilah sebagai identity dan ini perlu perjuangan panjang dan perlu strategi," ujar Komaruddin.

Menurut Komaruddin, mencari strategi menjadikan Pancasila sebagai indentitas nasional mestinya tak kalah penting dengan Program Organisasi Penggerak (POP) yang diagendakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Sebab, Pancasila sebagai indentitas nasional yang diimajinaisikan, dipikirkan dan digagas oleh para pendiri bangsa sudah mulai luntur akhir-akhir ini.

"Jadi bagaimana ada strategi, penggerak, penangan Pancasila. Dan Yudi (Latif) sudah mulai menuliskan, kemudian ini tidak menjadi agenda bersama-sama karena, Pancasila itu sesungguhnya kaki-kakinya bisa macam-macam. Di dalam negeri bisa pendidikan nasional, agama, intelektual. Tapi semuanya itu memang harus ada konsep dan blue print," katanya.

Cita-cita identitas nasional yang sudah mulai luntur itu, menurut Komaruddin, perlu ditemukan kembali strategi menghidupkannya, baik pada tataran konseptual filosofis dan ideologis, sehingga dapat menjadi kaidah atau panduan kebijakan dalam mengelola pemerintah dan negara. Dia lantas mengapresiasi buku karangan Yudi Latif setebal 315 halaman dan diterbitkan oleh Mizan ini

"Maka buku ini bagi saya sebagai orang baragama maka bacaan saya pertama adalah kita suci. Tapi sebagai warga negara hemat saya ini selayaknya menjadi bacaan utama buku Yudi tentang pancasila ini. Mengapa? Saya tidak bicara pribadi Yudi dan tidak bicara tentang penerbitnya tapi yang saya dress adalah gagasan-gagasannya. Ini merumuskan, menghidupkan, mempertegas, mengaktualisasikan apa yang dipikirkan, dibayangkan oleh para pendiri bangsa yang sebagian itu belum dituliskan kemudian diperkaya. Karena pada waktu itu antara kegiatan intelektual, kegiatan politik, membina kuhesi masyarakat, pergerakan kan jadi satu," katanya.

Disebutkan Komaruddin, Yudi Latif berhasil melengkapi dan mengembangkan hal-hal yang tidak sempat ditulis oleh para pendiri bangsa, sehingga buku karangan Yudi Latif ini, kata Komaruddin, dapat disebut mewakili cita-cita para pemikir, intelektual, dan pejuang yang ikut bersama-sama membayangkan Indonesia.

"Indonesia sebagai sebuah negara, cita-cita, konsep budaya, peradaban, itu kan end the making. Jadi Indonesia pada 16 dan 17 Agustus itu kan tidak beda secata fisical. Yang membedakan itu adalah satu realitas konstruktif konseptual yang kemudian kita bangun sampai hari ini. Makanya the imaging Indonesia itu harus terus dijaga karena itulah jati diri bangsa," katanya.

Lebih lanjut, Komaruddin menambahkan, jati diri bangsa Indonesia berbeda dengan jati diri negara Amerika Serikat. Menurutnya, masyarakat negeri paman sam tersebut masih ragu menjawab ketika ditanya perihal indentitas nasionalnya.

"Ini saya bandingkan misalkan dengan Amerika. Amerika itu tanah yang kosong, orang-orang pada datang, membentuk satu pemerintahan, satu masyarakat, tapi kalau ditanya bangsa Amerika itu tentu jawabannya ragu-ragu. Sedangkan kita bangsa Indonesia walaupun ditelusuri ke belakang, ke bawah, yang ditemukan pluralitas etnis-etnis. Tapi mereka sepakat bahwa mereka akan melebur. Kita akan sama-sama ayo jadi bangsa. Itu bukan sekedar house yang diakui oleh PBB ini negara merdeka 17 Agustus 45. Tapi sebagai home yang disitu ada mimpi, hebit, ada cita-cita," tambahnya.

Tidak banyak orang Indonesia yang memikirkan Indonesia sebagai home. Menurut Komaruddin, mereka lebih bicara Indonesia sebagai house, tempat berkompetisi, berebut kekuasaan, dan menghitung APBN. Sementara Indonesia sebagai cita-cita dan the imaging nation semakin terlupakan. Dia mengatakan pemikir serius tentang identitas kebangsaan seperti Yudi Latif sangat jarang.

"Maka saya senang sekali kehadiran buku (Wawasan Pancasila) ini kerena mengingatkan kembali. Dalam konteks ini Yudi itu blessing bagi orang yang mikir kebangsaan.Tapi persoalannya kemudian siapa yang kemudian membantu, mensupport, memikiran ide-idenya dan seterusnya. Karena apa yang disampaikan Yudi ini adalah ingin membangun indentitas Indonesia," tukasnya.

Komaruddin menegaskan bahwa yang disebut identitas nasional bukan sekedar identitas formal, tapi juga karena ada living velues, cita-cuta, etika dan legalitasnya. Itu sebabnya, Pancasila sebagai pemersatu kuhesi bangsa sudah selesai. Tapi sebagai identity, sebagi ruh, sebagai living velues, sebagai sebuah kesadaran, layaknya agama, kata dia, hal itu belum selesai.

"Kalau Jepang itu jelas. Kita mau ke Jepang, bangsa Jepang. Turki itu jelas, saya bangsa Turki. Kami bangsa Turki. Maka ketika diskusi Hagia Sophia orang Indonesia heboh agamanya saja. Padahal di sana itu lebih dari sekedar agama. Itu adalah bagian dari mata rantai sejarah kedaulatan karena bangsa turki sebagai sebuah bangsa sudah selesai. Tapi yang belum adalah kedaulatannya," katanya. (FIK)

Komentar Anda

Berita Terkini