|

Cinta Yang Terlarang

Faktanews.id - Syeikh Ibnu Al-Arabi di dalam Kitab-nya Tarjuman Al-Asywaq, kumpulan Syair, Diwan dari Syeikh Jalaluddin Rumi dalam Kitab Matsnawi, Kitab Futuh Al-Gaib dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, adalah beberapa karya monumental yang memiliki pengaruh besar dalam tradisi esoterisme Islam. "Agama Cinta" demikianlah para komentator menyimpulkan khasanah kearifan yang ditorehkan oleh para waliullah, dalam rangka menuntun manusia kembali kepada Tuhan. Nama-nama besar dalam "agama cinta" seperti Hallaj, Al-Busthami, Rabiah Al-Adawiah, dan banyak lagi telah membentuk suatu komunitas pencinta.

Pada umumnya karya-karya para pencinta kita temukan dalam ungkapan-ungkapan syair, karena demikian  bahasa yang dapat mewadahi khasanah dari tradisi esoteris yang memiliki kedalaman makna ini, dapat diungkapkan. Hanya mereka yang telah merasakan percintaan yang dapat memahami arti sebuah cinta.

Bagi Ibnu Arabi, agama cinta adalah ekspressi dari hati manusia paripurna, yang meliputi hal yang bersifat nonspecifity dan non entifaction yang berkekalan; merupakan manifestasi dari teofani, Zat Ilahiah--teofani yang "tidak pernah berulang". Oleh karena itu, hatinta menjadi "wadah dari segenap bentuk sebuah padang rumput bagi kawanan rusa, dan sebuah mihrab bagi para biarawan seperti Maryam. Sementara itu bagi Rumi agama cinta adalah hasil dari pengalaman dari percintaan sebagai realitas sentral yang melampaui segala konseptual yang mungkin. Sementara pada Ibnu Arabi, cinta memiliki peranan untuk mengatasi segalanya, di tangan Rumi, cinta merupakan wujud penyerahan diri yang totalitas kepada Sang Kekasih. Berbeda dengan Ibnu Arabi yang ditangannya mengalir penjelasan secara metafisika, teologi, kosmologi, antropologi, maupun psikilogi tentang teofani, Rumi tidaklah demikian; ia memilih melampiaskan rasa cintanya melalui syair, puisi, musik dan tari. Keduanya memberikan menuntun para kaum muslimin untuk kembali kepada Yang Terindah, Sang Kekasih melalui peng-Tauhid-an, tanpa memberi ruang bagi ditinggalkannya ketentuan-ketentuan Syariat.

Dalam Matsnawi, Rumi memandang semesta sebagai teofani Nama-Nama Tuhan dan Sifat-Nya, sedangkan manusia atau Adam, "tuan yang 'telah Tuhan ajari Nama-Nama". Yang memikul amanat Tuhan karena dirinya diciptakan dalam Citra-Nya. Sifat Ilahiah yang meliputi Rahmah dan gadhab merupakan aspek intrinsik Zat Tuhan mengingat "Rahmat-Ku mendahului Murka-KU". Sebagai teofani dari seluruh Nama dan Sifat Tuhan, manusia memiliki unsur kelembutan dan kekerasan. Kesempurnaan diperoleh dengan menjaga keseimbangan diantara dua sifat tersebut, mengingat 'kelembutan' atau Rahmat merupakan aspek yang paling mengemuka, Nama ini menguasai mereka. Sebalinya, Kemurkaan Tuhan mendominasi orang kafir. Dengan cara yang sama, para Malaikat merupakan teofani dari kelembutan, sedangkan setan merupakan teofani dari kemurkaan (gadhab). Secara mikrokosmos, intelek (aql) berkaitan dengan kelembutan Tuhan, sementara ego (nafs) merupakan pengejawantahan kekerasan-Nya. Kondisi manusia biasa menurut Rumi adalah beriman kepada Tuhan dan melaksanakan syariat, sekalipun terperangkap dalam perjuangan antara malaikat dan setan, intelek dan ego. Drama kosmik ini menurut Rumi karena "khasanah tersembunyi ingin dikenal, "Aku ingin dikenal, karenanya, Aku ciptakan Makhluk". Cinta dan Rahmat yang mendasari penciptaanlah yang memunculkan penciptaan alam semesta. Demikian itu karena Allah memuliakan anak-anak Adam. "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam" (QS. Al-Isra (17):70)

Cinta adalah kekuatan Ilahiah yang memunculkan eksistensi alam semesta, mendorong segenap aktifitas makhluk, dan menyesaki hati manusia untuk menegakkan kesatuan ditengah kejamakan. Cinta adalah Tuhan sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Tujuan alam semesta; Cinta adalah realitas Tunggal yang menyingkapkan Diri-Nya dalam bentuk-bentuk Yang Tidak Terhingga. Allah adalah Indah, dan Allah mencintai keindahan. Mencintai Allah itu cinta yang sejati, dan mencintai selain Allah, itulah cinta yang terlarang. Tiada Tuhan selain Allah, palingkan diri kepada selain-Nya.

Ibnu Arabi juga menyetel hadits Qudsi yang mengatakan "Aku adalah khasanah tersembunyi, dan Aku inginkan (Cinta) untuk dikenal, maka Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-KU". Harta tersembunyi ini adalah manifestasi seluruh wujud mungkin (Mumkin al-Wujud) yang dicakup oleh Nama-Nama Allah. "Sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu" (QS. Al-Thalaq (65):12), maka Sang Kekasih Tersembunyi memiliki keterkaitan dengan segala yang maujud sebagai Pengetahuan-Nya sebelum sesuatu itu diciptakan oleh-Nya. Segala sesuatu dicakup oleh pengetahuan-Nya (al-ma'lumat), yang bersifat non-eksisten (al-madumat), berupa entitas-entitas permanen" (al-a'yan al-tsabitah), dan "segala yang mungkin" (al-mumkinat). Sifat "mungkin" mereka dikaitkan dengan eksistensi mereka yang hanya merupakan pelimpahan dari-Nya: Dia mungkin atau tidak meminjamkan wujud baginya. Mereka disebut sebagai "teman seiring" (lawazim) dari asma Allah. Seluruh realitas "Ilahiah", yakni nama-nama-Nya dan entitas-entitas permanen, dan realitas kosmik (kauni), yang tiada lain merupakan entitas yang dipinhami pelimpahan eksistensi oleh nafas-Nya. Rumi menyebutnya sebagai Nafas Ar-Rahman.

Para pencinta di jalan Allah mestilah senantiasa berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah serta senantiasa meneladani Rasulullah Muhammad SAW. Syeikh Abdul Qadir al-Jailani berkata:"Setiap Ilmu hakekat  yang tidak diringi ilmu syariat adalah zindiq". Terbanglah menuju Sang Kekasih Yang Maha Indah menggunakan dua sayap, yaitu Al-Quran dan Sunnah. Masuklah kepada-Nya dalam keadaan tanganmu bergandengan tangan dengan Rasulullah saw. Jadikanlah beliau sebagai menteri dan gurumu. "Dan sesungguhnya Kamu telah diberi Al-Quran dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui" (QS. An-Naml (27):6).

"Dan janganlah Engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu" (QS. Thaha (20):114). "Kami mengutus (Muhammad) tiada lain untuk menjadi rahmat bagi semesta alam" (QS. Al-Anbiya (21): 107).

Dirikanlah Shalat dengan memperhatikan bagaimana Rasulullah mencontohkannya secara syareat maupun secara tarekat; kelaurkan zakat sebagaimana yang dianjurkan Rasulullah secara Syareat dan secara tarekat; laksanakan Puasa sebagaimana di sampaikan syareatnya oleh Rasulullah, dan perhatikan pula bagaimana secara tarekat; pergilah berhaji, dengan memperhatikan syareat dan tarekatnya. Jika Engkau mencintai Allah, ikutilah petunjuk Kekasih-Nya, Rasulullah Muhammad saw. Demikian itu yang terbaik yang mesti dilakukan oleh para pencinta. Perbanyaklah berkhalwat, melepaskan kerinduanmu kepada Sang Kekasih. Ketahuilah "Penglihatan tidak dapat meliputi-Nya, tetapi Dia meliputi seluruh pandangan" (QS. Al-An'am (6): 103).

Bersiaplah untuk terbakar, jika engkau telah berani mengatakan cinta kepada-Nya".

Seperti ungkapan Rumi; "Cinta kepada-Nya telah menyalakan api disemak-semak Ruh, menghanguskan segala relalitas yang tidak sejati".

Itulah sekilas gambaran tentang jalan yang mesti dilalui oleh para penganut agama cinta.

Semoga Allah swt senantiasa membimbing kita semua.

Oleh: Hasanuddin

Penulis tinggal di Depok, Jawa Barat
Komentar Anda

Berita Terkini