|

Memiliki

Faktanews.id - Kata pujangga, mencintai itu tidak harus memiliki, karena adakalanya saling memiliki belum tentu saling mencitai, dan cinta itu suci, abadi, bahkan karunia ilaihi. Tapi memang tak terhindarkan pula hampir semua kita sepertinya berharap dapat memiliki pada apa yang dicintainya itu, kendati sadar juga bahwa semua  yang dimilikinya itu takan terbawa mati.

Memiliki itupun bagian dari rasa, makanya ada ungkapan rasa memiliki atau merasa memiliki. Rasa memiliki ini penting karena dapat melahirkan tanggung jawab dalam hidup kita,  seiring dengan merasa berdosa bila tidak melaksanakan tanggung jawab itu, karena memang apa yang menjadi tanggung jawabnya itu, merupakan amanah, bahkan secara moral, bila rasa memiliki itu tinggi, maka berjanji itu sama dengan mepertaruhkan diri, orang yang tidak menepati janji atau yang berkhianat, berbohong maka sudah tidak bisa dipercaya lagi. Lebih-lebih bagi para pemimpin yang sementara ini sedang memangku amanah.

Memiliki juga beriringan dengan merawat. Bila kita memiliki sesuatu lalu bila tidak pandai merawatnya maka akan lepas dari genggaman, tidak memilikinya lagi. Memiliki rumah, mobil, motor, sepeda maka harus merawatnya. Termasuk memiliki ide, gagasan, pemikiran pun maka harus kita merawatnya, hal itu kemudian secara terus menerus  mendalami, menggali mengembangkan agar memiliki spectrum yang lebih luas, lalu kemudian diawetkan dengan dibukukan, yang tentu akhirnya ide gagasan pemikiran tersebut menjadi sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus sebagai khazanah pemikiran bagi perkembangan peradaban umat manusia.

Ada ungkapan bahwa orang itu memiliki iman, bukan dengan sebutan beriman, disini sepertinya ada rasa bahasa yang berbeda. Ungkapan beriman bisa dikatakan oleh dirinya sendiri dan oleh orang lain, saya beriman dan orang itu beriman, tapi saya memiliki iman seperti tidaklah lajim ungkapan ini, tapi orang itu memiliki iman sering pula kita dengar.

Pertanyaannya kenapa orang itu menyebutnya memiliki iman tidak cukup saja menyebutnya dengan orang itu beriman. Seseorang itu dinilai memiliki iman boleh jadi karena imannya begitu merefleksi pada prilakunya, seperti pada kejujurannya pada integritasnya pada amal-amal shalehnya, konsisten (istiqamah) pada pendiriannya. Lalu pertanyaannya apakah tidak juga demikian adanya dengan sebutan beriman...?

Nah, disini persoalannya, karena memang ada sebagaian di antara kamu yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir padahal mereka itu tidaklah beriman (wa minannasi mayyakulu amanna billahi walyaumil akhiri wa ma hum bi mu minin). Seperti pernah ada yang mengemukakan bahwa kenapa harus beriman pada hari akhir, padahal belum tentu adanya.

Namun yang pasti bahwa memiliki kiranya perlu dialamatkannya  pada diri sendiri, yaitu memiliki diri sendiri, rasa memiliki atas dirinya dan ini yang sangat penting, jangan sampai terlupakan adanya. Sebab kekayaan yang tidak ternilai adalah apa yang ada dalam diri kita, kita akan merasakan berharga malah sangat-sangat berharga, tentunya, jika kita merasa memilikinya.

Orang yang tidak merasa memiliki dirinya maka sepertinya akan sangat mudah sekali terombang ambing oleh situasi disekitaran, ia lepas terbawa arus kemana saja arah arus menuju. Pantas kemudian orang-orang tua dulu selalu memberi nasihat kepada putra putrinya yang akan menginjak dewasa, yang akan mengarungi hidup dimasyarakat yang lebih terbuka, leluasa dan bebas.

Camkanlah nak, janganlah kalian nanti hidup kalian itu, ibarat pucuk pohon  bambu, memang pohon bambu itu kelihatan menjulang tinggi bagai menggapai angkasa, tetapi arah pucuknya itu ditentukan oleh arah angin yang meniupnya, menghembusnya, kemana arah angin meniupnya kesitu pula pucuk bambu itu menghadapnya. Jadi hendaknya punya pendirian yang terarah menghadapnya, hadapkanlah kearah kehidupan peradaban yang muliya yang senantiasa memihak dan membela nilai-nilai kebenaran (fa akim wajhaka liddini hanifa). Wa Allah a’lam.

Oleh: Ahmad Zaky Siradj


Komentar Anda

Berita Terkini