|

Waspadai Anacaman Terorisme, Kriminalitas Dan Konflik Sosial Di Tengah Pendemi Covid-19

Faktanews.id - Aparat keamanan diminta tidak lengah menghadapi potensi ancaman terorisme, kriminalitas dan konflik sosial di tengah pandemi wabah virus Corona atau Covid-19. Sebab, kesibukan pemerintah dalam penanganan Covid-19 bisa menjadi celah bagi datangnya ancaman-ancaman termasuk gangguan keamanan nasional.

Pengamat intelijen dan keamanan, Stanislaus Riyanta, mengatakan terorisme, kriminalitas, dan konflik massa berpotensi terjadi da  memanfaatkan pandemi Covid-19. Hal itu dia sampaikan saat menjadi pembicara diskusi publik virtual bertajuk "Implikasi Pandemi COVID-19 Dalam Perspektif Sosial, Ekonomi, Politik, Hukum dan Keamanan”, Senin (18/5/2020) malam.

Menurut Stanislaus, terkait terorisme ada beberapa penangkapan yang dilakukan oleh Densus-88. Hal itu menunjukkan adanya gerakan signifikan dari kelompok teroris terutama JAD dan MIT yang memanfaatkan situasi pandemi Covid-19. Menurutnya, penangkapan yang terjadi pada masa pandemi Covid-19 antara lain, penangkapan empat orang jaringan JAD di Batang Jawa Tengah (26/3/2020), satu orang di Kemayoran Jakarta Pusat (10/4/2020), dua orang jaringan JAD ditangkap di Sidoarjo Jawa Timur (11/4/2020). Penangkapan juga dilakukan terhadap 4 orang jaringan JAD diamankan di Muna Sulawesi Tenggara (13/4/2020), tiga orang terduga teroris AS, AMA, CM di Serang (27/4/2020), dan seorang terduga teroris MH di Sidoarjo (26/4/2020).

Selain itu, aksi teror juga telah terjadi di Poso. Aksi berupa penembakan terhadap anggota Polri (Briptu Ilham Suhayar) yang berjaga di Bank Mandiri Syariah Poso (15/4/2020) dilakukan oleh dua anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso pimpinan Ali Kalora. Dua pelaku Muis Fahron alias Abdullah dan Ali alias Darwin Gobel berhasil dikejar dan ditembak mati oleh aparat keamanan.

"Tingkat kriminalitas pada masa pandemi Covid-19 mengalami kenaikan. Polri menyatakan tingkat kriminalitas meningkat sebesar 19,72 persen selama pandemi corona (13/4/2020). Karopenmas Mabes Polri, Brigjen Pol Argo Yuwono menjelaskan pada Februari ada 17.411 kasus. Di Maret ada 20.845 kasus. Pada akhir April 2020 Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana mengungkap adanya peningkatan angka kriminalitas sebesar 10 persen di wilayah Jadetabek selama pandemi Covid-19 sejak Maret hingga April 2020. Jenis kriminalitas yang paling banyak ditemukan selama pandemi Covid-19 adalah perampokan atau pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian kendaraan bermotor, dan penyalahgunaan narkoba," papar Stanislaus.

Disebutkan Stanislaus, potensi konflik massa juga bisa terjadi pada massa pandemi Covid-19 ini. Salah satu kelompok yang mencoba melakukan provokasi untuk konflik massa, dia mencotohkan adalah kelompok Anarko. Kelompok tersebut melakukan aksi di Tangerang beupa vandalisme yang cenderung provokatif. Tiga pelaku ditangkap aparat di sebuah kafe di wilayah Kota Tangerang pada Jumat (10/4). Kemudian dua orang lagi ditangkap di Bekasi dan Tigaraksa Tangerang.

"Kelompok Anarko ini menentang kapitalisme dan pemerintah. Selain ini provokasi-provokasi dari kelompok tertentu yang mengarah kepada perlawanan terhadap pemerintah juga terjadi," katanya.

Untuk menekan terorisme, kriminalitas dan mencegah terjadinya konflik di masyarakat Menurut Stanislaus, perlu dilakukan upaya-upaya tertentu. Pemerintah secara berjenjang sangat perlu untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti sembako bagi warga di daerah PSBB dan tidak memperoleh pendapatan. Masalah pangan sangat sensitif dan jika tidak terpenuhi dampaknya bisa berbahaya.

"Saat ini aparat keamanan seperti Polri dan TNI sudah melakukan segala upaya untuk memastikan keamanan masyarakat tetap terjamin. Terhadap para teroris, provokator, dan pelaku kriminal dengan kekerasan Polri harus bertindak tegas," tukasnya.

Namun demikian, Stanislaus meminta Polri perlu hati-hati dan bijak dalam menangani pelaku kriminal yang didorong karena terdesak kebutuhan pangan. Aksi bakti sosial Polri dan TNI untuk memastikan masyarakat tetap terpenuhi kebutuhan pangannya adalah suatu tindakan yang bijaksana. Aparat keamanan harus membangun kolaborasi dengan masyarakat untuk memastikan di wilayahnya masing-masing bebas dari sumber ancaman.

"Hubungan yang erat antara masyarakat dengan aparat keamanan akan menjadi benteng untuk mencegah gangguan keamanan. Kolaborasi antara aparat keamanan dengan masyarakat serta, harus terus dilakukan agar pada masa pandemi covid-19 ini kriminalitas, terorisme dapat dicegah dan konflik massa tidak terjadi," katanya.

Sementara itu, penasehat Ahli Kapolri, Prof. Muradi meyakini Indonesia akan berada pada situasi normal kembali "new normal" meskipun pasein virus corona terus mengalami peningkatan setiap harinya.

"Sekali lagi saya optimis dalam 1, 2, dan 3 minggu ke depan ini kita bisa lebih normal, "new normal" begitu," katanya.

Namun demikian, Muradi mengatakan diperlukan instrumen lain untuk memperkuat aparat keamanan dalam mengantisipasi situasi keamanan nasional. Jika tidak, menurut Muradi, aparat keamanan akan mengalami degradasi dalam menegakkan aturan di tengah ketatnya pembelakuan PSBB di masa pandemi Covid-19 ini.

"Memang ini menyangkut soal lebih bijak melihat dinamika wagra +62 ini yang ngeyelan dan sebagainya, perlu langkah-langkah yang sifatnya lebih akomodatif. Siapa yang melakukan itu ya bukan polisi, bukan tentara. Tapi teman-teman yang berada digarda terdepan, katakanlah Kepala Daerah dan juga Provinsi karena dengan cara itu pemerintah pusat menginisiasi, menstimulasi program untuk menangani Covid-19 ini," katanya. (RF)
Komentar Anda

Berita Terkini