|

Pandemik Covid-19: Ujian Bagi Moral Bangsa

Faktanews.id - Pandemik Covid 19 telah menimbulkan dampak kepanikan dari sebagian masyarakat. Sifatnya yang tidak kasat mata dan penyebarannya yang sangat cepat membuat orang takut terpapar. Anjuran pemerintah untuk melakukan "social distancing" guna memutus rantai penyebaran, membuat orang semakin takut untuk berinteraksi secara langsung dengan orang lain, termasuk dengan tetangga sekitarnya, bahkan dengan keluarganya sendiri.

Ketakutan akan terpapar virus corona, juga berdampak kepada perlakuan terhadap orang yang sedang sakit di jalan. Berbagai kejadian orang yang terkena serangan jantung di jalan meninggal, karena tidak ada yang berani segera menolong. Mereka yang tahu kejadian tidak berani menolong karena dikira yang bersangkutan terpapar virus corona. 

Di sisi lain, kebijakan Pemerintah untuk bekerja dari rumah juga berdampak kepada pendapatan bagi mereka yang bekerja di sektor informal, seperti para tukang ojek online dan pedagang kaki lima. Mereka mengalami penurunan pendapatan yang cukup signifikan. Pendapatan mereka bisa berkurang sampai 50 persen, karena mobilitas orang semakin berkurang. Orang yang biasanya berpergian ke kantor menggunakan jasa gojek maupun grab online lebih memilih tinggal di rumah sesuai dengan anjuran pemerintah. Mereka yang biasanya beli makan di kaki lima memilih makan di rumah, karena takut tertular virus corona. 

Pandemik covid-19 juga menimbulkan dampak pada pemutusan hubungan kerja. Beberapa usaha terpaksa  merumahkan karyawannya karena tidak bisa membayar upah, karena sepi pembeli. Mereka yang dirumahkan otomatis kehilangan pendapatan. Sementara kebutuhan dasar (makan) tidak bisa dihentikan. Akibatnya banyak keluarga yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sampai kapan pandemik ini akan berlangsung, tampaknya sulit diprediksi, karena banyak faktor yang mempengaruhi penyebarannya. Sampai hari ini, jumlah orang yang positif terpapar covid-19 masih terus meningkat.  Bahkan pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk tidak mudik pada hari raya Idul Fitri nanti. Dengan himbauan tersebut, putaran uang yang biasanya mengalir dari kota ke desa otomatis juga akan terhenti. Orang-orang desa yang biasanya menerima aliran dana dari kota yang dibawa oleh keluarga mereka yang merantau tidak terjadi. Mereka yang merantau di kota juga harus berjuang untuk memenuhi kehidupannya sendiri. Kondisi seperti ini akan berdampak kepada masyarakat miskin semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup.

Pemerintah memang telah mengambil kebijakan untuk memberi bantuan kepada mereka yang mengalami PHK. Paling tidak selama tiga bulan ke depan. Namun bantuan pemerintah tersebut belum  tentu bisa menjangkau ke seluruh masyarakat miskin. Selain itu bantuan seringkali juga tidak tepat sasaran dan tepat waktunya. Oleh karena itu, kepedulian sesama warga masyarakat sangat dibutuhkan, terutama dari mereka yang memiliki kecukupan secara ekonomi untuk membantu tetangga atau sanak saudara yang mengalami kesulitan hidup sehari-hari.

Wabah covid-19 menjadi sarana untuk membangkitkan kembali semangat gotong royong yang dilandasi oleh nilai kemanusiaan. Nilai gotong royong yang telah lama kita abaikan karena sikap egoisme perlu dibangun kembali.

Keberadaan kita sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, dan selalu membutuhkan bantuan orang lain perlu kita renungkan kembali.

Kodrat sosial kita telah melahirkan suatu kebutuhan hidup bermasyarakat yang dilandasi oleh kegotongroyongan dan kemanusiaan.

Masyarakat bukan hanya sekedar koalisi kepentingan semata, tetapi juga  merupakan komunitas moral, yang didalamnya ada kesepakatan tentang hak dan kewajiban.  Sebagaimana dikatakan oleh Fukuyama, bahwa  komunitas moral didasarkan kepada kebiasaan etis dan kewajiban moral secara timbal balik yang dibangun oleh anggotanya. Komunitas moral adalah cara  bagaimana  berhubungan dengan orang lain yang disebut kita.

Komponen dasar dari moral komunitas adalah kepercayaan, loyalitas dan solidaritas.

Ini berarti, dalam terminologi “kita”  mengacu kepada siapa kita percaya, loyal, dan solidaritas.

Kehidupan bermasyarakat harus dilandasi oleh kepercayaan  dan loyalitas satu dengan lainnya, yang kemudian ditunjukkan dalam bentuk solidaritas terhadap yang lain. Nenek moyang kita telah mengajarkan kehidupan yang dilandasi oleh perasaan senasib  sepenanggungan dan kesetiakawanan diantara sesama warga masyarakat. Dalam menghadapi wabah covid-19, nilai-nilai gotong royong perlu kita aktualisasi dengan saling memberi diantara kita.

Mereka yang memiliki kelebihan ekonomi, memberi bantuan ekonomi kepada mereka yang kekurangan.
Mereka yang hanya memiliki tenaga memberi bantuan tenaga kepada  yang membutuhkan,
Bagi yang tidak memiliki kelebihan ekonomi dan tenaga memberi bantuan doa kepada semuanya. 
Inilah salah satu bentuk keadilan sosial, dimana setiap orang saling memberikan sebagian apa yang dimiliki kepada orang lain.

Moral komunitas kita sebagai bangsa yang berjiwa Pancasila diuji oleh kehadiran virus corona.

Pancasila tidak cukup hanya  dihafalkan dan dipahami, tetapi perlu kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Solidaritas sesama bangsa Indonesia harus kita wujudkan dalam bentuk gotong royong.

Semoga dengan semangat gotong royong, kita bisa segera mengatasi wabah covid-19. Aamiin.

Oleh. Prof. Warsono
Komentar Anda

Berita Terkini