|

Korma ITS Paparkan Tantangan Industri Petrokima Pasca Corona

Faktanews.id - Selain alat kesehatan dan makanan minuman, Petrokimia menjadi sektor industri yang menerima “berkah” pandemi COVID-19. Meskipun begitu, bukan berarti industri petrokima tidak membutuhkan perhatian.

Sebab, ada tantangan besar bagi industri petrokimia pascapandemi COVID-19, yaitu bahan baku dan produk turunannya. Industri petrokimkia dituntut menemukan inovasi bahan baku dan pengolahan produk turunan dengan harga bersaing dibanding produk luar negeri sehingga lebih kompetitif dan meningkatkan market share.

Hal ini terungkap dalam seri ketiga Kajian Online Bersama (Korma) ITS bertema “The New Normal on Downstream and Petrochemical Industry” yang selenggarakan IKA ITS Jakarta Raya, Rabu (22/5/2020). Hadir sebagai pembicara dalam kajian tersebut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kemenperin Doddy Rahadi, Direktur Teknik dan Pengembangan PT Petrokimia Gresik, Arif Fauzan dan Head of Business Department PT Vivo Energy Indonesia Adam Rozelly Ahmad.

Arif Fauzan mengungkapkan, hampir 60% produk petrokimia ditopang bahan baku impor. Dia mencontohkan di Petrokimia Gresik sendiri menggunakan bahan baku impor 100% untuk kalium klorida (KCl) atau phospat dan  sulphur.

Karena dunia sedang terganggu oleh virus Corona, hal itu juga berpengaruh pada impor bahan baku. ”Kami harus melakukan penyesuaian karena keseimbangan global berubah,” ujar Arif.

Bila bahan baku telah diatasi, lanjut Arif, peluang pasar ekspor pupuk Indonesia sangat terbuka. Pada masa pandemi saat ini saja, hampir semua negara di dunia memberi prioritas untuk pupuk. India yang memberlakukan kebijakan lockdown tetap membuka kesempatan impor seluas-luasnya untuk impor pupuk.

”Sebelum COVID-19 masuk Indonesia, kami tidak ada masalah mengisi pasar impor pupuk ke China karena mereka memberi kelonggaran untuk transportasi pupuk,” ujar Arif dalam kajian yang diikuti 156 peserta, terdiri dari alumni ITS lintas disiplin ilmu, dari dalam dan luar negeri ini.

Adam Rozelli menyampaikan, kondisi pandemi yang tak terduga seperti COVID-19 sangat tidak menguntungkan untuk industri. Fenomena rush dan peningkatan penjualan saat pandemi menurut dia hanya bersifat sementara. Boleh jadi, berikutnya yang terjadi penjualan retail akan anjlok.

”Sejumlah regulasi yang memberikan dukungan usaha sangat dibutuhkan agar pelaku usaha retail dapat bernapas,” katanya.

Sementara Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian Doddy Rahadi menyampaikan bahwa Kementerian Perindustrian terus mencari celah untuk industri hilir agar dapat bertahan dan mampu keluar dari kondisi pandemi.

Dia mengungkapkan bahwa pemerintah telah membuat strategi pemulihan industri terdampak COVID-19 berdasarkan subsektor industri. Untuk agroindustri, pemerintah mendorong agar bansos yang dikeluarkan untuk penyerapkan produksi dalam negeri.

”Beli produk agro dalam negeri, ya berasnya, gulanya, minyaknya. Ini untuk mendorong industrinya,” kata Doddy.

Panitia Pengarah Korma ITS Muhammad Ade Irfan menyampaikan upaya pemulihan dunia usaha yang berbasis masyarakat, retail, dan harian di Indonesia tidak mudah. Ini karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak cukup efektif menghambat penyebaran COVID-19.

”Shifting industri pada new normal di antaranya adalah penggunaan sistem digital, pengubah mode operasional perusahaan dan jumlah keterlibatan karyawan, dan inovasi produk – produk turunan,” katanya.
Komentar Anda

Berita Terkini