|

Analisis Jumhur Hidayat Terkait Wacana Lockdown Hadapi Covid-19

Faktanews.id - Aktivis senior Muhammad Jumhur Hidayat menyampaikan analisis perihal wacana opsi lockdown terkait situasi pandemi virus corona. Wabah virus yang mematikan ini membuat masyarakat panik, gelisah dan takut. Namun pemerintah Indonesia belum menetapkan opsi lockdown.

Padahal, sudah ada 369 rakyat Indonesia yang dinyatakan positif terjangkit virus yang dianggap berasal dari Wuhan, China tersebut. Dan sejumlah negara sudah menetapkan opsi lockdown untuk mencegah penyebaran covid-19 ini. Negara-negara yang sudah memilih opsi lockdwn antara lain China, Filipina, Iran, Italia, Denmark, dan Spanyol.

Lalu bagaimana analisis Jumhur Hidayat, eks Kepala BNP2TKI, jika Indonesia tidak hanya menetapkan covid-19 sebagai bencana nasional non-alam, tapi juga memilih opsi lockdow. Berikut analisis Jumhur selengkapnya, Sabtu (21/3/2020).

Gelombang pertama (first wave) Covid-19 adalah di Wuhan, China. Kemudian sebelum menjalar ke semua daerah, Wuhan melakukan lockdown. Namun, ternyata sudah keburu menjalar ke lebih 155 negara dari sekitar 200 negara di seluruh dunia tentunya termasuk Indonesia, dan ini disebut sebagai gelombang kedua (second wave). Negara-negara dalam gelombang kedua ini segera bersikap dan yang menunjukan gejala penularan yang cepat mereka melakukan lockdown di pusat-pusat penyebaran, dengan harapan tidak terjadi gelombang ketiga (third wave) di daerah lainnya di negara tersebut, atau bahkan lockdown bagi seluruh wilayah negara tersebut. Intinya mereka ingin memutus mata rantai penularan.

Terkait Indonesia, Pemerintah Pusat tidak berpikir lockdown sebagai kebijakan tentunya juga dengan berbagai alasan yang sangat masuk akal. Bila ini terus berlanjut, walau kegiatan ekonomi tanpa lockdown juga tetap melemah signifikan, maka dalam logika sederhana, bisa terjadi third wave di berbagai daerah lain di Indonesia atau bahkan forth wave dan seterusnya, karena mata rantai Covid-19 tidak diputus. Akibatnya, tentu saja bukan hanya mengganggu dinamika ekonomi domestik antar daerah yang sudah pasti terjadi, tetapi justru dalam hubungan ekonomi internasional, di mana Indonesia bisa diisolasi secara internasional karena dianggap akan menjadi sumber Covid-19 pada gelombang ketiga. Bila ini terjadi, selain ekonomi domestik melemah, dalam hubungan ekonomi internasional pun dikucilkan. Maka ini sama artinya sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Karena itu, dengan segala kobodohan saya, sebaiknya kita sakit sebentar misalnya 1 bulan demi memutus rantai penularan, dan setelah itu kita bangkit lagi dan diterima dengan suka cita dalam hubungan ekonomi baik itu antar daerah maupun ekonomi internasional. 

Adapun ujian Gotong Royong bangsa kita adalah ketika kita bisa memastikan setiap perut manusia Indonesia terisi selama sebulan ini dan juga beban-beban rakyat seperti lstrik, tagihan perbankan, pajak dan sebagainya bisa diminimalisasi sedemikian rupa atau bahkan dimoratorium yang bisa dikompensasikan pada bulan-bulan berikutnya setelah wabah Covid-19 selesai.

Sekali lagi, tanpa Gotong Royong kita tidak mungkin melakukan lockdown, karena mereka yang akan mati dalam situasi ini lebih banyak bukan karena Covid-19, tetapi karena malnutrisi dan kelaparan.

Sekedar mengingatkan, bahwa kita masih punya Presiden, Gubernur, Bupati dengan segala perangkat di bawahnya, Tokoh-tokoh Ormas, Lembaga-lembaga Zakat atau Donasi Keagamaan lainnya, Orang-orang yang sangat kaya-raya, kaum cerdik pandai dan relawan yang siap mendistribusikan makanan kepada kaum miskin selama 1 bulan itu. (RF)
Komentar Anda

Berita Terkini