|

Kematian: Takut Allah Atau Takut Corona

Faktanews.id - Di tengah merebaknya wabah virus corona,  muncul pertanyaan mengelitik tentang kematian. Sesungguhnya kita takut sama Allah atau takut corona?

Pertanyaan seperti itu, tepatnya tidak perlu jawaban. Sebagai orang beriman, semua mengerti bahwa Allah Robbal Alamin. Kedudukanya sebagai Al-Khooliq, Tuhan Yang Maha Pencipta Semesta Alam.
Sedangkan corona adalah mahluk, hanya ciptaan. Karena itu mempertentangkan dua hal yang jauh tidak sepadan, sesuatu yang jelas diametral adalah salah nalar, atau sesat pikir.

Untuk menjelaskan semua itu, perlu dipahami terlebih dahulu, apa definisi kematian itu?

Hingga kini, dunia kedokteran masih kesulitan untuk memastikan perihal kematian.  Dari perspektif akibat yang dapat dikenali, dunia medis menetapkan tiga fase kematian, yaitu mati klinis, mati otak, dan mati secara biologis.

Mati klinis ditandai dengan berhentinya pernapasan dan detak jantung, sehingga impuls dari otak memudar dan panca-indera tidak lagi bereaksi. Pada fase ini sering terjadi _near-death experience_ (NDE) alias mati suri.

Sedang mati otak  ditandai dengan berhentinya semua fungsi otak. Pada fase ini, semua organ penting masih berfungsi, meskipun tanpa kendali dari otak. Biasanya pasien masih "hidup" dibantu alat-alat kedokteran, seperti alat pernapasan, pacu jantung dan lainnya.

Adapun mati biologis ditandai dengan kondisi jasad menjadi kaku, diikuti kematian milyaran sel-sel tubuh, sehingga mulai terjadi proses pembusukan yang berlangsung cepat. Semua makhluk hidup yang mengalami kondisi seperti itu, dipastikan sudah mati.

Jadi jelas dunia kedokteran, melihat kematian itu dari perspektif akibat yang dapat dikenali. Sedangkan Kaidah Medical Quran, yakni sesuai kandungan ayat-ayat yang berhubungan dengan medis, menetapkan kematian itu dari perspektif penyebabnya.

Rumusan kematian itu dinyatakan Alquran  dalam beberapa ayat, bahwa: _Setiap yang memiliki nafs akan merasakan mati: kullu nafsin dzaaiqotul maut_ (QS. 3:185, QS. 21:25 dan QS. 29:57).
Dalam rumusan yang lain dinyatakan bahwa: _Dan setiap yang memiliki nafs tidak akan mati, kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya_ (QS.  3:145)

Rumusan pada ayat terakhir ini sering menimbulkan salah persepsi. Harus dipahami bahwa pernyataan _kecuali dengan izin Allah_ itu bukan berdiri sendiri,  tetapi diikuti dengan keterangan tentang _ketetapan yang telah ditentukan waktunya._

Dapat dijelaskan bahwa manusia sejak pertama kali, diciptakan sesuai dengan ketetapan-ketetapan, sesuai sunatullah, _masnuunin_ (QS. 22:26, 28, 33).
Adapun yang dimaksud sebagai _ketetapan waktu yang telah ditetapkan itu_ menunjuk pada masa waktu tumbuh berkembangnya nafs, hingga terjadinya kerusakan dan kematian.

Persoalan timbul karena semua menganggap bahwa nafs ini dipahami sebagai nyawa, bahkan dipersepsikan sebagai ruuch, bukan suatu materi dalam tubuh secara fisik. Sehingga apa dan bagaimana nafs secara fisik sangat sulit dipahami dan dikenali. Akibatnya sering terjadi perbedaan persepsi. 

Tentang kematiam misalnya,  seolah-olah antara kedokteran dengan Alquran itu saling bertentangan. Termasuk munculnya pandangan konyol, terhadap ancaman wabah sekarang ini, kita takut sama Allah atau takut corona?

Di tengah kegamangan dunia kedokteran tentang kematian itu, kaidah kematian menurut Alquran merupakan jawaban, yang sudah pasti benarnya. Tugas kita adalah mengungkap rahasia, dan menjelaskan apakah nafs itu?

Sayangnya dalam kesempatan sempit ini tidak mungkin membahas secara menyeluruh perihal nafs, yang disebut Alquran sebanyak 296 kali itu. Semoga Allah melimpahkan keberkahan umur kepada kita semua, sehingga dapat membahas bersama, setelah nanti selesai dalam bentuk buku, yang sudah separo jalan.

Dalam kesempatan ini setidaknya secara singkat dapat disampaikan beberapa jejak tentang nafs tersebut. Pada QS. 9. Attaubah, ayat 36, misalnya,  selain menerangkan tentang perhitungan bulan dalam setahun dan bulan haram, juga memuat larangan, _agar manusia tidak menthzolimi nafs, dirinya sendiri: falaa tathzlimuu fiihinna anfusakum._

Dan dengan sangat terang pada ayat sebelumnya,  QS. 9. Attaubah, ayat 35, menyebut secara eksplisit seluruh bagian lambung _(junuub)_, seluruh tulang belakang _(thzuhur)_ dan dahi _(jibah_, sebagai pelindung), merupakan bagian-bagian tubuh,  yang dalam Kaidah Manusia Holistik menurut Alquran,  sebagai penentu dalam mekanisme dan metabolisme pembentukan,  pertumbuhan, dan kerusakan nafs, yang berujung pada timbulnya sakit dan kematian.

Perlu diketahui bahwa nafs adalah salah satu dari 13 bahan muasal penciptaan manusia yang disebut oleh Alquran. Untuk pertama kalinya, nafs itu diciptakan bersamaan dengan penciptaan Adam dan istrinya,  yang dinyatakan Alquran sebagai _min nafsin wahidatin_. Tepat jika dimaknai sebagai _sebagian daripada sel-sel genetik yang tunggal_ (QS. 4:1, QS. 39:6,  QS. 6:98 dan QS. 7:189).

Pemaknaan itu selaras dengan keterangan bahwa nafs itu saling berpasangan. Fakta ini dikamuskan Alquran sebagai _wal-anfa bil-anfi_ (QS. 5:45). Dalam dunia geneologi dikenal sebagai sel genetik (gen) dan alel gen.

Nafs juga disebut Alquran untuk menerangkan keberadaan sel genetik  binatang-binatang (QS. 39:06) dan tumbuh-tumbuhan (QS.  32:27). Disinilah bertemu kesimpulan bahwa rumusan _kullu nafsin_ itu sama artinya dengan _setiap mahluk hidup pasti bersel genetik._ Dan rumusan _kullu nafsin dzaaiqotul maut_ berarti, _setiap mahluk hidup yang bersel genetik (nafs) pasti merasakan mati._

Dalam hal ini muasal nafs sebagai sel genetik itu, sepenuhnya diciptakan dan berasal langsung dari Allah SWT.
Fakta temuan mutahir berkaitan dengan bahan sel genetik di dunia,  sangat mengejutkan. Ternyata nafs semula, yaitu apa-apa yang terkandung dalam sel genetik, memang bukan berasal dari bumi.

Fakta itu diketahui dalam Prosiding National Academy of Sciences, (Nov 2019). Dalam jurnal ilmiah itu,  Furukawa, seorang ilmuwan dari Universitas Tohoku, Jepang menyatakan, bahwa untuk pertama kalinya ilmuwan menemukan gula dan blok bangunan penting kehidupan, termasuk asam amino (komponen protein) dan nukleobase (komponen DNA dan RNA) pada meteor yang jatuh ke bumi. _Subhanallah._


_*Dari sedikit keterangan  di atas, relevan dinyatakan bahwa nafs adalah sesuatu yang berhubungan, dan penentu terjadinya sakit dan kematian. Dan dijamin dapat dibuktikan secara ilmiah,  bahwa nafs yang dimaksud Alquran adalah sel genetik.*_

Dalam kaitan itu dunia medis telah merumuskan bahwa pada setiap makhluk hidup, memiliki materi genetik yang terdiri atas kromosom, gen, DNA, dan RNA, yang akan diturunkan melalui proses reproduksi. Struktur sel genetik itu merupakan suatu molekul besar kompleks yang saling berpilin membentuk heliks ganda, berupa polimer dari ratusan hingga ribuan nukleotida.

Adapun setiap nukleotida tersebut terdiri dari: gula pentosa deoksiribosa (gula murni), gugus fosfat, dan basa nitrogen. Dalam kaitan itu, otomatis unsur-unsur lain yang bertentangan dan berlebihan, utamanya unsur gula apalagi sintetis, lemak jenuh dan polutan atau radikal bebas yang bersifat patogen, termasuk virus corona, sudah jelas akan merusak sel genetik, dan dapat menyebabkan sakit dan kematian.

Mengingat berbahayanya kerusakan sel genetik tersebut, pada QS. 9. Attaubah, ayat 36, beriring dengan keterangan awal ayat itu tentang siksa neraka jahanam, pada ujung ayat yang sama disampaikan ancaman yang keras. _“Inilah harta benda (nutrisi) yang kamu simpan (berlebihan) untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (sakit akibat kerusakan nafsmu itu), karena apa-apa yang kamu simpan sendiri._

Akhirnya berkaitan dengan mewabahnya virus corona di dunia, prinsip utama amalan yang tepat dilakukan kaum muslimin adalah  semua amalan, yang dapat menjaga kesehatan nafs sebagai sel genetik. Tindakan  antisipasi singkatnya adalah menjalankan seluruh amalan sesuai dengan syariah Islam, tidak cukup yang wajib, perlu diperbanyak yang sunah. Sekarang  saatnya untuk melakukan _tazkiatun nafs,_ menyehatkan dan mensucikan nafs dari segala kesalahan dan dosa.

Secara spesifik, terdapat 3 hal sangat penting yang harus diperhatikan.
_Pertama_, menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Kerjakan seluruh amalan tentang bersuci, _(thoharoh),_ dan sunah-sunanhnya. Ingat di dalam Islam tidak hanya mengenal kebersihan dan hieginitas tetapi lebih dari itu, menuntut kesucian.
_Kedua_,  Meningkatkan  kebugaran dan kekuatan tubuh. Utamanya mengerakkan badan. Sholat fardhu dan memperbanyak sunah dengan benar akan sangat berguna. Juga olah raga ringan, berjalan dan lari-lari kecil, seperti towaf dan sa'i berjarak 3,4 km, cukup untuk menjaga kebugaran.
_Ketiga_, Meningkatkan  imunitas atau daya tahan tubuh. Puasa dan menjaga makanan dan minuman adalah cara paling efektif. Dalam syariah Islam, tidak hanya masalah kuantitas dan kualitas makanan dan minuman yang sehat, tetapi juga harus halal,  thoyyib dan tidak berlebih-lebihan.

Kesimpulannya, patuh menjalankan amalan sesuai syariat Islam dengan baik dan benar, serta mendekatkan diri kepada Allah,  sesungguhnya kita telah waspada dan tidak perlu takut berlebihan dengan corona.

Di atas segala ikhtiar itu, akhirnya kita berserah diri kepada Allah,  karena sebaik-sebaiknya pertolongan adalah perlindungan Allah SWT.
Marilah kita bertobat, memohon ampun dan terus-menerus berdoa.

Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan. Aamiin ya Robbal alamin

Oleh: Mochammad Sa'dun Masyhur

Penulis adalah  Holistic Healing Consulting, Expert and Inventor Medical Quran, tinggal di Bogor, Indonesia.
Komentar Anda

Berita Terkini