|

Adopsi Korea Selatan


Faktanews.id - Presiden Jokowi rilis statement: No Lockdown. Haters Jokowi meradang. Polisi mengeluarkan instruksi pembatasan pembelian sembako.

Hari ini tanggal 17 Maret 2020. Genap-ganjil dicabut sementara. Suasana sepi. Ada aktivitas. Tapi intensitasnya turun jauh. Satu dua toko tutup. Ojek pangkalan masi standby.

Masyarakat punya their own wisdom. Reaksi seiring situasi. Semakin kritis otomatis warga akan nge-rem aktivitas ngumpul.

Perencana chaoz rethinking their plans. Belum surut. Narasi diubah. Tampak lebih simpatik. Ujungnya tetap lockdown. Supaya bisa trigger rusuh.

Faktor yang bikin mereka merinding adalah contoh kasus India. PM Modi menghadapi dua-front sekaligus: Coronavirus dan CAB Riots. Ngga jatuh. Opsi militer diambil.

Amerika lagi pusing. Corona outbreaks bisa tumbangkan Trump. Logistik untuk pemberontak Indonesia tersendat. Head-to-head dengan pelaku makar, Pemerintah sah yang ditopang TNI-Polri pasti menang.

Faktor kedua; Panglima TNI, Kapolri, Kasad, Menhan tiba-tiba sunyi. Mereka kerja. Misterius. Operasi senyap. Pantau Perang Dua-Front.

Faktor ketiga; Pengumuman open involvement BIN. Effect detterence. Figur Go-block macam Iwan Mule komentar. Sok cibir policy. Ngga ngerti itu bahasa politik. Ngga paham semua negara, termasuk Trump administration, fungsikan inteligence agency di front terdepan melawan Coronavirus.

Tokoh Tionghoa Lieus Sungkharisma menyerukan "Persatuan Rakyat". Rakyat harus percaya kepada pemerintah.

Pemerintah pasti lebih tau dibanding buzzer ngaku dokter ahli virus. Presiden bukan walikota yang hanya tau 1 kota. Percaya Pemerintah kunci keselamatan kali ini.

Pemerintah harus tegas dan klir. Opsi lockdown ditolak. Maka protocol dan metode Korea Selatan mestinya jadi referensi.

Corona outbreak ditrigger Shincheonji Church of Jesus, Temple of the Tabernacle of the Testimony di Kota Daegu. Ada seribu orang ngumpul. Tularkan virus mematikan.

Instruksi pemerintah agar jangan ngumpul masih aja diabaikan oleh Gereja The Grace River. Alhasil 135 jema'ah termasuk pastor kena Covid-19. Bikin ribet.

South Korea adopsi paradigma "treat early". Effective. Give antibiotics early for sepsis, you live; wait too long, you die.

Kunci suksesnya; Penggunaan masker secara massive, produksi test kits, laboratorium riset, No lockdown policy, dan peran militer gabungan U.S. Forces Korea.

Otoritas South Korea mementahkan mitos WHO yang meremehkan masker. Dalam hitungan hari, produksi test kits digenjot, tenaga medis dan militer turun aktif dan agresif.

Menkoinfo Indonesia kurang greget. Malah ada yang tuding ngga kerja. Tidak gencar rilis himbauan dan blokade infodemic hoax.

Katanya peta outbreak sudah dimiliki Pemda Jakarta. Tapi cuma segitu doang. Public ngga pernah dengar ada 1 Kelurahan di-lockdown sehari karena semprot disinfektan. Istilahnya bukan "limited lockdown" tapi "special care zones" seperti di Kota Daegu dan Cheongdo.

Daripada genangin jalan dengan mobil genap-ganjil, sebaiknya Gubernur Anies Baswedan minta bantuan ke Beijing. Suplai masker, test kits dan obat-obatan.

Oleh: Zeng Wei Jian


Komentar Anda

Berita Terkini