|

Diskusi PGK: Bonus Demografi Akan Menjadi Bencana, Apabila......?

(Diskusi "Peranan Pemuda Sebagai Tulang Punggung Pemanfaatan Bonus Demografi, Tantangan Dan Peluang Ekonomi Dalam Menyongsong Indonesia Emas pada Tahun 2045" di kantor DPP PGK)
Faktanews.id - Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (DPP PGK) menggelar diskusi bertajuk "Peranan Pemuda Sebagai Tulang Punggung Pemanfatan Bonus Demografi, Tantangan Dan Peluang Ekonomi Dalam Menyongsong Indonesia Emas pada Tahun 2045". Diskusi berlangsung di kantor DPP PGK, kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (15/2/2020).

Hadir sebagai narasumber adalah Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE Indonesia), Muhammad Faisal dan Staf Khusus Presiden Jokowi, Arif Budimanta. Diskusi ini dihadiri Ketum PGK Bursah Zarnubi, Presiden Pemuda Asia-Afrika, Beni Pramula, aktivis mahasiswa BEM dan pimpinan Organisasi Kepemudaan lainnya.

Faisal mengatakan, puncak bonus demografi pada 2030-2035, pada saat itu jumlah kolompok usia produktif (usia 15-64 tahu) jauh melebihi kolompok usia tidak produktif (dibwah 15 tahun dan 65 tahun ke atas). Dengan demikian, lanjut Faisal, kelompok usia paling muda kian sedikit, begitu pula dengan kolompok usia paling tua.

"Bonus demografo tercermin dari angka rasio ketergantungan (dependency ratio), yaitu rasio antara kolompok usia yang tidak produktif dengan yang produktif. Pada 2030, rasio ketergantungan Indonesia akan mencapai angka 44 persen . Artinya rasio kolompok usia produktif vs tidak produktif mencapai lebih dari 2 kali (100 orang usia produktif menanggung 44 orang yang tidak produktif," ujar Faisal.
Menurut Faisal, kolompok usia produktif merupakan mesin pendorong pertumbuhan  ekonomo. Artinya, peluang paling besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi paling tinggi ada pada masa bonus demografi.

"Negara-negara maju seperti Jepang, Kanada atau negara-negara Skandanavia tak lagi produkti karena kolompok usia produktif terus menyusut," tandas dia.

Menurut Faisal, Indonesia harus memanfaatkan kesempatan emas demografi 2030-2035 ini. Sebab. lanjut dia, ada catatan semakin kecil angka deoendency ratio semkin besar proporsi usia produktif dan semakin tinggi produktifitas ekonomi.

"Bonus demografi periode ini lebih berkualitas karena lebih banyak tenaga terlatih degan asumsi tingkat pendidikan harus lebih tinggi," tandas dia.

Disebutkan Faisal, bonus demografi dapat dijadikan upaya menuju negara berpenghasilan tinggi di tengah pertumbuhan ekonomi yang tertatahan relatif stagnan dalam 17 tahun terakhir ini, terutama pada angka 5 persen dalam lima tahun terakhir dan peningkatan PDB per kapita yang sangat lamban ini.

"Lalu siapa kolompok usia produktif yang akan paling berperan pada saat puncak bonus demografi di tahun 2030-2035? anak-anak yang saat ini berumur belasan tahun dan generasi meilenial muda," kata Faisal.

Menurut Faisal, kalau saat ini berusia 15 tahun, maka pada saat puncak bonus demografi terjhadi usia mereka sekitar 30 tahun. Mereka sedang aktif-aktifnya bekerja dan berkarya untuk bangsa.

"Anak-anak neo milenial harus dipersiapkjan sebaik mungkin agar saat waktunya tiba di tahun 2030-2035 mereka telah menjadi manusia-manusia yang benar-benar berkualitas dan secara maksimal mendorong pertumbuhan ekonomi," tukasnya.

"Jika gagal menciptakan generai berkualitas pada saat puncak bonus demografi, maka bonus demografi bisa menjadi beban, bukan lagi mesin pendorong akseleriasi pertumbuhan ekonomi," katanya.

Sementara itu, Staf Khusus Presiden Jokowi, Arif Budimanta, mengatakan bonus demografi adalah sebuah periode ketika jumlah penduduk usia produktif kisaran 15-64 tahun lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk di usia yang tidak produktif di bwah 15 tahun dan di atas 64 tahun.

"Di tahun 2030, presentase penduduk usia produktif total mencapai lebih dari 68 persen dari total populasi. Angka ini akan jauh lebih besar seperti China dan India. Bahkan dengan negara-negara berpendapatan tinggi sekalipun," kata Arif.

Arif mengatakan, peran penduduk usia produktif dalam perekonomian nasional nantinya sebagai pendorong produktifitas, penyumbang terbesar pajak, dan kontibutor konsumsi terbesar

"Indonesia harus bisa memanfaatkan momentum demografi. Gagal mengkapitalisasi  "momentum" yang ada, maka bonus demografi hanya akan menjadi bencana," kata Arif. (RF)


Komentar Anda

Berita Terkini