|

Pengamat Beberkan Potensi Konflik Baru Golkar Pasca Airlangga Umumkan Susunan Kepengurusan

Faktanews.id - Pengamat politik dari Charta Politika, Muslimin, menilai ada potensi konflik di tubuh Partai Golkar setelah Airlangga Hartarto mengeluarkan susunan kepengurusan Golkar peride 2019-2024. Menurut Muslimin, Airlangga memang terpilih secara aklamasi melalui Munas Golkar bebera waktu lalu. Tapi, potensi konflik tak bisa dihindari.

"Dukungan barisan elit Golkar (kepada Airlangga) itu bukan dukungan kosong dan tentu yang diharapkan masuk kepengurusan. Yang tidak diakomodasi tentunya memunculkan konflik kembali di Golkar ke depan," ujar Muslimin saat dihubungi, Minggu (19/1/2020).

Menurut Muslimin, masuknya politisi senior Golkar, seperti Aburizal Bakri, Agung Laksono, Akbar Tanjung dan Luhut Binsar Panjaitan, dan loyalis Setya Novanto, bukan jaminan bagi Golkar terhindar dari konflik internal. Sebab, tokoh senior Golkar yang lain seperti Jusuf Kalla dan beberapa elit lainnya, misalnya, Ridwan Hisjam, Syamsul Bachri, Ibnu Munzir, Hamka B.Kadi dan Supriansyah tersingkir dari kepengurusan Golkar.

"Tapi tidak mungkin juga semua kader di akomodir masuk kepengurusan. Di Golkar ini bisa hidup dan mati berkali-kali. Artinya di periode ini tidak masuk dan diperiode berikutnya masuk lagi. Kan begitu di Golkar. Selalu ada yang tersisihkan," katanya.

Ditanya soal reaksi pendukung Bambang Soesatyo pada Munas Golkar X, yang tergabung pada tim 9 yang minta Airlangga merombak kepengurusan, Muslimin mengatakan hal itu juga merupakan kekecewaan yang bakal memunculkan konflik di tubuh Golkar. Menurut Muslimin, sebagai Ketua Umum, Airlangga harus bisa membaca manuver-manuver kader Golkar yang merasa kecewa.

"Airlangga harus mengambil langkah-langkah strategis bagaimana kemudian riyak-riyak itu tidak menjadi bola salju sehingga membesar dan memunculkan konflik lagi di Golkar," tambah Muslimin.

Menurut Muslimin, memang susunan kepengurusan Golkar tidak mungkin memuaskan semua pihak. Sebab, kader Golkar cukup banyak, yang jumlahnya mencapai ribuan orang.

"Tapi kalau elit-elit merasa tidak puas dengan kepengurusan saat ini sangat mungkin terjadi konflik lagi. Tapi itu dinamika. Di Golkar itu biasa terjadi," tandas dia.

Selain itu, Muslimin mangatakan terlalu dini untuk memberikan penilaian apakah susunan kepengurusan Golkar saat ini dapat meningkatkan atau menurunkan elektoral Golkar pada Pemilu 2024, mengingat perelehan suara dan kursi Golkar di Parlemen mengalami penurunan pada Pemilu 2019 silam.

"Perolehan kursi (Golkar di Parlemen) bisa naik tergantung pada upaya yang dilakukan Airlangga dan kepengurusannya. Tapi, saya kira terlalu dini menilai apakah kepengurusan ini bisa mendongkrak elektoral atau tidak," katanya.

Komentar Anda

Berita Terkini