|

Bursah Zarnubi Bedah Tantangan Geopolitik Indonesia

(Bursah Zarnubi pada diskusi publik: Tantangan Geopolitik Indonesia Dalam Perspektif Global Dan Kawasan, di kantor PGK)
Faktanews.id - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Pekumpulan Gerakan Kebangsaan (DPP PGK), Bursah Zarnubi memberikan sambutan pada diskusi publik bertajuk "Tantangan Geopolitik Indonesia Dalam Perspektif Global Dan Kawasan" di kantor PGK, bilangan Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (17/1/2020).

Dihadapan ratusan peserta diskusi, Bursah menjelaskan tantangan geopolitik Indonesia di masa mendatang. Sebagai negara yang diapit dua benua, yaitu Asia-Australia dan dua Samudra Pasifik-Hindia, Indonesia kaya akan sumber daya alam (SDM).

Selain itu, Bursah menjelaskan, Indonesia juga terletak diantara pertemuan atau pergerakan tiga lempeng (besar) tektonik, lempeng euarasia, lempeng fasipik dan lempeng IndoAustralia), sehingga banyak terbentuk pegunungan yang kaya akan mineral.
"Selain beriklim tropis, tanah yang subur dan wilayah perairan yang kaya akan sumber makanan(ikan) serta kekayaan keaneragaman hayati lainnya, Indonesia juga penghasil berbagai jenis bahan tambang, seperti batu bara, minyak,emas, bauksit, perak, nikel, dan lain-lain," ujar Bursah.

Dipaparkan Bursah, di kawasan tersebut, terletak Selat Malaka, jalur lalu lintas seperempat perdagangan dunia ada dikawasan ini, ada 80.000 kapal setiap tahunnya, dari India ke Timur Tengah dengan Asia Timur ke Pasipik serta Laut China Selatan dan sebaliknya.

"Dengan demikian spasial geografi indonesia adalah lebensraum penting bagi hidup dan kehidupan bangsa Indonesia," katanya.

Bursah lantas bertanya, mengapa Indonesia pada masa lalu menjadi kawansan rebutan kolonial? menurut dia, karena negara ini disamping kekayaannya yang melimpah tapi juga posisi geografisnya sangat strategis di kawasan.
"Dengan demikian geografi indonesia memiliki arti politis (geo politik) dan strategis(geostrategis), baik di kawasan maupun global," tandas dia.

Terkait kegaduhan di Natuna, Bursah mengatakan hal itu merupakan suatu soal. Dijelaskan Bursah, soal yang lebih penting lagi bagaimana semua elemen bangsa memahami  geopolitik Indonesia dalam  perspektif kawasan dan global serta kancah pertarungan, memiliki tantangan yang lebih besar lagi.

"Karena Indonesia masih belum menyadari bahwa lebensraum geopolitik Indonesia menyangkut national interest, memanfaatkan sumberdaya, perlindungan kedaulatan, pertahanan dan keamanan, yang belum maksimal kita elaborasi. Tiongkok, vietnam,  Singapore dan Malaysia, bahkan menikmati nilai ekonomis kawasan ini," tandasnya.

Bursah menambahkan, jika mengabaikan beberapa hal tersebut, tentu akan menimbulkan resiko lemahnya national interest, rentan agresi, eksploitasi sumberdaya oleh fihak lain, kehilangan kedaulatan dan kembalinya kolonialisasi. Belum teratasinya masalah Kemiskinan dan ketimpangan nasional, juga rentan menimbulkan resiko geopolitik.

"Sementara itu, kesadaran kita akan artikulasi dan narasi geopolitik masih belum mampu menjawab tujuan kemerdekaan Indonesia sebaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945," tambah Bursah.

Hadir pada diskusi ini adalah pengamat intelijen, militer dan pertahanan, Connie Rahakundini Bakrie, anggota Komisi I DPR RI Bobby A. Rizaldi, Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Gerindra, Sri Meliyana, Ketum PGK Bursah Zarnubi, Presiden Asia-Africa Benny Pramula, Ketum PB HMI Saddam Al Jihad, kolompok Cipayung Plus dan dan ratusan aktivis pergerakan lintas generasi lainnya.

Komentar Anda

Berita Terkini