-->
    |

Wakasatgas Polri Fadil Imran Bicara Tantangan Kepemimpinan Pemuda

(Wakasatgas Polri Brigjen Fadil Imran saat menyampaikan materi diskisi Pemuda untuk Pembangunan Bangsa di Gedung Joeang, Menteng Jakarta Pusat)
Faktanews.id - Gerakan BEM Jakarta menggelar diskusi publik bertajuk "Pemuda untuk Pembangunan Bangsa: Tantangan Sumber Daya Dan Kepemimpinan Pemuda" di Gedung Joeang, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/10/2019).

Hadir sebagai narasumber Wakasatgas Nusantara Polri Brigjen Fadil Imran, Aktivis Demokrasi Maruarar Sirait, Anggota DPR Ahmad Doli Kurnia, Pengamat Politik Adi Prayitno dan Sekjend Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Riyan Hidayat.

Fadil menyampaikan ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi untuk menciptakan pembangunan bangsa dan kepemimpinan pemuda. Indonesia kaya akan sumber daya alam dan jumlah penduduk yang mancapai ratusan juta, Fadil meyakini Indonesia akan menjadi negara terbesar keempat di dunia.

Untuk mencapai Indonesia emas pada 2045, menurut Fadil, selain pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan keamanan nasional juga menjadi tolak ukur akan masa depan sebuah bangsa.

"Dalam teori, pertumbuhan keamanan menjadi tolak ukur, karena ada kejahatan narkoba, terorisme, kejahatan perbankan. Ini menurut saya juta menjadi tantangan kepemimpinan," ujar Fadil.

Menurut Fadil, kepemimpinan pemuda tak lepas dari generasi milenial. Generasi ini menjadi generasi penerus dan aset bangsa untuk menciptakan demokrasi dan peradaban bangsa yang maju. Kendati demikian, kata Fadil, semua elemen bangsa harus berkolaborasi sehingga Indonesia emas pada 2045 semakin terbuka lebar.
"Ruang menuju era emas tahu 2045 itu sangat terbuka. Orang akan takut sama Indonsaia karena demokrasinya maju dan peradabannya maju. Mari kita berkolaborasi sesama elemen bangsa," katanya.

Fadil juga berpesan kepada generasi milenial agar menjaga dan menjunjung etika dalam menyampaikan aspirasi. Menjaga etika ini sangat penting sekalipun generasi milenial ini ganderung akan perubahan, transparan dan percaya diri.

"Karena ada persoalan dalam konteks generasi milenialin. Persoalan kritis dan terbuka tanpa didasari norma-norma, itu bahaya," katanya.

Sementara itu, Maruarar Sirait berbicara kepemimpinan miritokrasi. Dia mengajak generasi muda memiliki pilihan terhadap sosok pemimpin miritokrasi. Ciri-ciri pemimpin miritokrasi sendiri diantaranya adalah berintegritas, bijak, dan idealis.

"Pilihalah pemimpin yang miritokrasi. Jangan terjebak pada calon pemimpin yang melihat situasi. jangan pilih yang feodal. Calon bukan dari keluarga darah biru agar masa depan menjadi harapan bersama. itu harus ditanamkan di Indonesia. Tidak mudah menjaga idealisme di tengah kebutuhan ekonomi keluarga. Bagaimana menjaga idealisme tapi kebutuhan ekonomi juga harus dijaga," ucap Maruarar.

Adapun Ahmad Doli Kurnia berbicara persoalan era distrupsi yang menjadi dampak negatif kepada generasi muda. Menurut Doli, era distrupsi ini harus dicermati secara seksama karena perubahan era ini memberikan dampak negatif kepada tata kehidupan mendasar berbangsa dan bernegara.

"Harus kita cermati era distrupsi itu kerena bukan hanya hal-hal teknis, tapi juga bisa mengganti hal-hal mendasar seperti kebudayaan dan ideologi. Ideologi Pancasila berganti pada ideologi liberal," katanya.

Hal lain yang terdampak dari era distrupsi tersebut, menurut Doli, juga masuk pada agama dan kepercayaan. Doli mencotohkan marakanya sel-sel dan kolompok-kolompok terorisme, yang selama ini disandangkan kepada agama Islam.

"Islam pun mengalamai penyimpangan-penyimpangan.padahal  Islam itu sebagai rahmatan lil alamin. Tap kenyataannya sekarang ada terorisme, LGBT, seks bebas, dll. Ini sudah mengarah pada yang ekstrem. Sangat membajayakan kehidupan bangsa kita. Pergerakan ke arah ekstrem itu dampaknya kepada anak-anak muda," tandas Doli. (RF)
Komentar Anda

Berita Terkini