|

Syahrul dan Godaannya

Faktanews.id - Syahrul Yasin Limpo (SYL) baru saja dilantik Presiden Jokowi sebagai menteri pertanian masa 2019-2024. Ia menggantikan Amran Sulaiman yang tersingkir dari kabinet jilid II Jokowi-Maruf.

SYL boleh dikatakan DNA-nya adalah pamong/birokrat tulen, sedari level desa/kelurahan, jabatan administratif, bupati Gowa dua periode hingga dua periode menjabat Gubernur Sulsel dan baru digantikan Nurdin Abdullah setahun lalu.

Pasca Gubernur, SYL mencoba keberuntungan mendaftar calon legislatif pada pemilu 2019, sayangnya gagal dan bahkan kalah dari seorang istri Bupati yang jelajah kiprahnya tidak banyak dikenal khalayak.

Bukan hanya SYL yang tersingkir, nama singa komisi III DPR RI pun Akbar Faizal turut tak berkutik. "Pemilu brutal" demikian ungkapannya sesaat setelah pengumuman KPU.

Pemilu dengan segala dosa politiknya memang harus dibenahi melalui regulasi agar wakil-wakil rakyat yang terpilih telah teruji kiprah, dedikasi dan pengabdiannya ditengah masyarakat bukan karena ancaman struktural pejabat daerah dan permainan uang yang tak terkendali. Pemilu kian transaksional, materialistis dan liberalis jauh dari nilai-nilai Pancasila.

Masa tenggat waktu bagi SYL dari pasca Gubernur hingga terpilih sebagai Menteri Pertanian saya kira masa-masa kesunyian. Tak banyak lagi kawan yang menemani, tak ada protokoler penjemputan atau pengantaran dan bahkan beberapa karibnya kian jauh karena kuasa tak lagi bersamanya.

Watak birokrasi memang demikian, hanya sahabat sejati yang bisa menemani kala susah atau senang. Dan SYL saya kira sudah melewati masa verifikasi siapa sahabat sejatinya itu. Seperti kata Ali bin Abi Thalib bahwa "Sahabat sejatiku akan saya hitung dikala keadaan susah dan menderita".

Hal demikian belum berarti apa-apa, Ilham Arief Sirajuddin (Aco) mengalami kegetiran tak terperih, diterunku sekian tahun, dinyatakan tersangka pada acara kenegaraan dan semua dilewati dengan senyum dan menggembirakan tanpa dendam karena semua yang awal akan ada akhirnya.

Baik sosok SYL maupun Aco adalah tokoh simpul politik di Sulsel. Kali ini, arisan politik SYL sedang naik dan mekar pasca penunjukan dirinya sebagai menteri. Kawan yang sudah menjauh kembali dekat. Mereka yang berjarak kian berhimpit. Yang tak tahu seolah kenal mendalam, demikian faktanya saat ini.

Di platform sosial media, berseliweran foto-foto SYL dengan orang-orang dalam keterpilihan sebagai menteri. Entah saling kenal atau tidak soal lain. Paling tidak, secara positif mereka bangga atas prestasi SYL yang kini dipercaya Presiden Jokowi sebagai pembantunya.

Seorang yang dekat dengan SYL menuliskan di wall-nya keanehan-keanehan TSM (tawa, senyum, menggembirakan) fenemona diatas. Seolah saling berlomba menunjukkan kedekatan dengan mimik TSM bersama sang komandan, julukan SYL.

Saya sendiri ditanya, soal SYL kemungkinan masuk kabinet Jokowi. Buat saya tentu senang siapapun orang Sulsel dengan kapasitasnya ditunjuk mengisi kursi menteri, makin banyak makin baik karena Sulsel lumbung pemimpin nasional. Daerah penghasil kader petarung dan calon pemimpin nasional.

Dua bulan lalu, Senin (26/8/2019) saya diminta sebagai panelis di acara diskusi kebangsaan yang menghadirkan SYL sebagai pembicara utama selain Prof. Hamdan dan Prof. Husain Syam. Pada forum tersebut saya tegaskan bahwa kementerian yang cocok dengan SYL yakni Mendagri dengan pertimbangan garis DNA diatas.

Presiden Jokowi tentu memiliki pertimbangan tertentu SYL ditugaskan pada pos pertanian dan yang tahu tentu hanya Tuhan, Jokowi dan SYL.

Yang paling pokok soal pertanian adalah menjaga pasar beras pasca panen dan jaminan harga yang layak dan menguntungkan petani. Jangan lagi ada import beras ditengah panen raya seperti kebijakan sebelumnya. Kasus itupun berarkhir naas karena oknum di departemen Pertanian di tangkap KPK.

Selain itu soal pembagian pupuk gratis, pembuatan cetak lahan pertanian dan perluasan lahan serta mewujudkan Bank Tani dengan jaminan lahan dan hasil pertanian agar para petani hidup sejahtera di negeri agraris yang Gemah Ripah loh jinawi ini.

Menangani sektor pertanian dengan seambrek masalahnya membutuhkan tenaga dan pikiran jernih, objektif dan solusi tepat. SYL saya kira secara keilmuan bukan bidangnya namun dengan pengalaman kepemimpinan yang teruji dan manajerial pemanfaatan SDM di kementeriannya akan sanggup diatasinya dengan mudah.

Kementerian adalah posisi politik dan penempatannya juga dengan pertimbangan politik. Biarkan SYL bekerja dengan tenang tak perlu yang selfie ria itu juga sering nongkrong di Ragunan agar cita Nawacita bidang pertanian dapat terwujud dengan nyata.

Kemampuan sebagai pamong puluhan tahun dengan manajemen SDM yang dikuasainya serta gaya pidato khasnya ala Bung Karno merupakan godaan dahsyat para pegawai untuk saling membantu dan bekerjasama sesuai arahan SYL.

Yang bedakan Bung Karno dan SYL jika berpidato hanya satu: Bung Karno pegang tongkat komando, SYL pegang HP komandan. Keduanya memikat dan berapi-api dengan daya magisnya masing-masing. Ini bukan kompor untuk SYL dan jauh dari pretensi, saya hanya mengulang apa yang saya sampaikan pada diskusi kebangsaan lalu didepan SYL dan peserta diskusi.

Akhirnya, kita semua khususnya warga Sulsel hanya bisa mendoakan agar amanah baru yang diemban dapat dilaksanakan dengan baik dan sukses: jauh dari KKN agar tidak menjadi tangkapan KPK.

Selamat untukmu Daeng Kawang !

Oleh: Dr. Syamsuddin Radjab, SH., MH

(Direktur Eksekutif Jenggala Center dan Dosen HTN UIN Alauddin Makassar)



Komentar Anda

Berita Terkini