|

Pengamat: Ada Tiga Isu Yang Patut Diwaspadai Jelang Pelantikan Presiden

Faktanews.id - Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta, memprediksi pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada 20 Oktober 2019 akan berlangsung aman dan damai. Menurut Stanislaus, memang ada tiga isu yang patut diwaspadai.

"Berbagai isu beredar terutama terkait rencana unjuk rasa mahasiswa menjelang dan pada saat pelantikan tersebut, isu keamanan berkaitan dengan terorisme, dan isu konsilidasi politik," ujar Stanislaus, 15/10/2019).

Menurut Stanislaus, isu yang paling kuat terkait pelantikan Presiden adalah potensi unjuk rasa yang dapat dinilai bisa mengganggu jalannya pelantikan. Disebutkan Stanislaus, pemerintah dapat melakukan komunikasi dengan intens kepada mahasiswa untuk membantu jalannya agenda nasional tersebut.

"Mahasiswa pada prinsipnya adalah generasi muda cendekiawan yang dapat diajak berdiskusi sehingga tidak ada alasan untuk tidak mendengar pemerintah," katanya.

Kekhawatiran jika mahasiswa melakukan unjuk rasa, menurut Stanislaus, dapat menjadi kendaraan bagi pihak-pihak yang akan menciptakan situasi tidak kondusif harus dikomunikasikan kepada mahasiswa, karena jika ini terjadi juga akan mencederai perjuangan intelektual mahasiswa.

Lebih lanjut, Stanislaus memaparkan selain itu aksi teror yang menimpa Pejabat Negara Menko Polhukam Wiranto menjadi catatan penting untuk meningkatkan standard pengamanan untuk VVIP. Selain dampak keamanan, kasus aksi teror kepada Menko Polhukam juga berdampak pada ujaran-ujaran kebencian dan narasi "nyinyir" terkait peristiwa teror tersebut.

"Hal ini kemudian disikapi dengan tegas terutama oleh TNI termasuk dengan mencopot dan menghukum anggota yang keluargannya terlibat," papar dia.

Stanislaus menambahkan potensi ancaman gangguan keamanan yang paling dikhawatirkan seperti aksi teror diprediksi akan sulit terjadi terutama pada ring 1 mengingat ketatnya sistem pengamanan yang ada. Selain itu pasca kejadian di Menes Pandeglang, Densus 88 AT melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap anggota JAD yang merupakan kelompok pelaku aksi teror terhadap Menko Polhukam Wiranto.

Langkah yang dilakukan oleh Densus 88 AT ini, Stanislaus mengatakan akan membuat anggota dan simpatisan JAD untuk bersembunyi atau menjadi sleeper cell agar tidak menarik perhatian Densus 88 AT atau justru jika sudah pada tahap putus asa akan melakukan aksi dengan serangan akhir.

"Namun dengan ketatnya sistem pengamanan dan terbatasnya sumber daya kelompok JAD maka aksi akhir tersebut akan sulit dilakukan di Jakarta,"tambah dia.

Stanislaus juga mengatakan pada peristiwa lain Joko Widodo sudah bertemu secara akrab dengan Prabowo Subianto, rivalnya pada saat Pilpres. Hal ini membuat kelompok oposisi dengan basis ideologis cenderung menentang dengan adanya rekonsiliasi Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

"Hubungan baik antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto menjadi kunci utama stabilitas politik saat ini. Hubungan tersebut juga berhasil memisahkan kelompok oposisi berbasis politik dengan kelompok ideologi," tukas dia.

Lebih lanjut, Stanislaus mengatakan sikap kelompok ideologi yang menolak rekonsiliasi dapat dianggap wajar, mengingat terdapat tuntutan kelompok oposisi ideologi yang tidak mungkin dapat diakomodasi oleh pemerintah dan perbedaan prinsip yang cukup kuat.

"Dari berbagai hal tersebut di atas maka prediksi situasi Polhukam pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada 20 Oktober 2019 diperkirakan akan berjalan dengan aman dan terkendali dengan tetap mewaspadai berbagai unjuk rasa mahasiswa yang kemungkinan menjadi kendaraan bagi kelompok yang mempunyai agenda tertentu," katanya. (RF)
Komentar Anda

Berita Terkini