|

Pakar HTN: Diskresi Kepolisian Larang Unjuk Rasa Jelang Pelantikan Presiden Langgar Kontitusi

Faktanews.id - Polda Metro Jaya mengeluarkan diskresi tidak mengeluarkan izin kepada siapa pun yang akan menggelar aksi unjuk. Larangan aksi demonstrasi berlaku mulai 15 sampai 20 Oktober 2019 yang bersamaan dengan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih, Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Dosen Hukum Tata Negara Alauddi Makasar Syamsuddin Radjab menyayangkan langkah kepolisian tersebut. Menurut Syamsuddin, tindakan dan pelarangan kepolisian terhadap aksi unjuk rasa jelas bertentangan denga konstitusi dan UU no 9/1998 Tentang kebebasan penyampaian pendapat didepan umum.

"Baru dalam sejarah dinegara klaim demokrasi di era reformasi hak-hak dasar yg dijamin konstitusi dan dilindungi UU dilarang. Pada periode pertama Presiden Jokowi tidak ada pelarangan. Sungguh aneh," ujar Syamsuddin melalui keterangan tertulisnya, Rabu (16/10/2019).

Tidak hanya Polda Metro Jaya, Polda Sulawesi Selatan juga melarang aksi unjuk rasa. Menurut Syamsuddin, jika ada aksi demonstrasi di Sulsel hal itu tidak akan mengganggu pelantika presiden dan wakil presiden.

"Sulsel juga kena dampak kebijakan ini yang jauh dari arena pelantikan presiden dan wakil presiden dimana tidak memberi pengaruh dalam makna menggangu pelantikan apalagi akan membatalkan agenda nasional dimaksud," tukas Syamsuddin.

Eks Ketua PBHI ini berkelakar bahwa dalam konteks Jakarta pun, Kebijakan Polda Metro Jaya, seharusnya hanya menjaga jarak aman dan harus steril tempat pelantikan sementara aksi unjuk rasa pada area yang berbeda. Bukan malah melarang karena itu pelanggaran konstitusi dan UU. Dia menambahkan, seharusnya cara berpikir yang dibangun, pelantikan presiden dan wapres dalam kondisi aman dan steril dengan radius tertentu tetapi juga memberi hak kepada siapapun untuk menyelenggarakan haknya secara bebas.

Menurut Syamsuddin, dibanyak negara dengan demokrasi yang sudah mapan akan seperti itu pengaturannya bukan dengan alasan dan asumsi seolah jabatan presiden itu jabatan keramat dan harus didewakan dalam suasana hikmat dan tenang.

"Cara pandang seperti ini akan membahayakan perkembangan demokrasi dimasa depan apalagi dengan memakai alat-alat kekerasan negara seperti kepolisian atau TNI," tambah dia.

Syamsuddin yang juga direktur eksektuf Jenggala Center ini mengaku sudah berulang kali menegaskan bahwa aksi unjuk rasa tak perlu izin dari siapapun hanya berupa pemberitahuan kepada aparat kepolisian agar dapat dikawal pelaksanaan hak dimaksud. Bukan pula menghalangi dengan dalih tidak mau memberikan tanda terima. Pokoknya sudah diberitahukan, selesai.

"Kalau dalam aksi ada yang merusak, anarkis dan diluar ketentuan hukum, silakan ditangkap dan diproses secara hukum pula. Dan jangan mudah menuduh "ditunggangi" ada provokator dan lain-lain dengan maksud melemahkan gerakan mahasiswa," katanya.

Lebih lanjut, Syamsuddin mengatakan bahwa penggunaan alasan diskresi oleh kepolisian untuk melarang aksi unjuk rasa tidak tepat dan menyimpangi ketentuan hukum. Diskresi jika dikaitkan dalam unjuk rasa digunakan dalam penanganan aksi anarkis yang dapat membahayakan nyawa aparat kepolisian untuk mengambil tindakan pencegahan dan atau penyelamatan diri dan bahkan menembak si pelaku anarkis.

"Dogma umumnya, diskresi dibenarkan sebagai tindakan administratif untuk mengisi kekosongan hukum dan memberi kepastian hukum terhadap suatu hal yang belum diatur. Silakan baca UU No 28/1999 dan UU No 30/2014," tandasnya.

Dijelaskan Syamsuddin, aksi unjuk rasa jelas pengaturannya didalam konstitusi maupun UU No 9/1998. Maka dari itu, kata dia, tidak benar alasan diskresi digunakan untuk melarang aksi unjuk rasa warga negara. Hal ini dikatakan Syamsuddin karena dirinya ingin mendudukkan cara pandang hukum secara benar, karena kalau dibiarkan akhirnya pandangan yang salah dapat dibenarkan oleh publik dan itu tidak mendidik masyarakat.

"Bernegara itu berhukum dan hanya hukum yang berhak melarang atau membolehkan. Kepatuhan hukum haruslah bersandarkan pada asas legalitas. Tinggal masing-masing pihak harus tunduk dan patuh kepada ketentuan hukum. Inilah esensi negara Indonesia berdasarkan hukum," demikian Syamsuddin menegaskan. (RF)


Komentar Anda

Berita Terkini