|

Ulasan Ketum PB HMI Tentang Memilih Pemimpin

(Ilustrasi)
FaktaNews.id - Kepemimpinan terus menjadi perbincangan karena setiap orang ingin dipimpin oleh pemimpin yang ideal dan visioner.

Sejumlah banyak kalangan yang membahas dan menggagas kepemimpinan visioner dari berbagai perspektif.

Kali ini, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2003-2005, Hasanuddin. Dia mengulas kepemimpinan dan memilih pemimpin dalam perspektif teologis. Berikut ulasan Hasanuddin selengkapnya.

Memilih Pemimpin

"Dan jika mereka itu bertanya kepada engkau tentang ruh. Katakanlah! Ruh itu urusan Tuhanku, tiada kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit saja.” (QS. al-isra’ ayat 85).

Ayat ini menegaskan bahwa masalah ruh yang ada dalam tubuh manusia merupakan urusan-Nya. 

Oleh sebab itu,  seorang Dokter tidak mampu memperbaiki kerusakan ruh.  Professor,  Guru Besar,  tidak kuasa dalam memperbaiki jika ruh yang sangat vital itu mengalami kerusakan. 

Hanya Allah-lah yang mempunyai kemampuan untuk mengurusi ruh kita itu. 

Ruh memiliki potensi hidup,  sebab itu ia berkembang kapasitas dan kemampuannya. Sebaliknya juga dapat mengalami penurunan kapasitas. Semakin besar kapasitas ruh, semakin baik kualitasnya, akan semakin unggullah seseorang.

Bagaimana supaya ruh itu mengalami peningkatan kapasitas,  dan tidak sebaliknya mengalami penurunan kapasitas?  Ruh tentu memerlukan asupan "gizi".  Darimana ruh memperoleh asupan gizi?  

Hanya Allah yang dapat memberinya asupan gizi.  Sebab ruh itu memerlukan asupan 'gizi' berupa cahaya Ilahi. Pancaran dari cahaya Ilahi itulah yang memungkinkan ruh itu tumbuh dan berkembang dengan baik. 

Dalam rangka memperoleh asupan gizi bagi ruh itulah,  kita di anjurkan "mendirikan sholat". Mendirikan sholat artinya melakukan hubungan secara langsung dengan Allah. Berbeda antara "mendirikan Sholat" dengan melaksanakan rukun sholat. Orang yang hanya melaksanakan rukun sholat,  belum tentu sedang sholat.  Bahkan bisa jadi seseorang yang sedang melaksanakan rukun-rukun sholat itu,  bukan sedang berhubungan dengan Allah. Namun berhubungan dengan selain Allah. 

Bagaimana kita berhubungan dengan Allah? Dengan cara mengingat Allah. Jadi orang yang sedang sholat itu mesti senantiasa ingatannya kepada Allah,  bukan kepada selain Allah. 

Bagaimana kita mengingat sesuatu yang tidak pernah kita lihat sebelumnya? Sebenarnya kita pernah melihat Allah,  sebelum ruh kita di masukkan ke dalam tubuh kita.  Sebelum ruh "ditiupkan" ke dalam tubuh,  kita telah "menyaksikan" Allah.  Dengan mengatakan "Qalu balaa syahidna".

Ingatan akan Allah itu, terhijab di saat ruh dimasukkan ke dalam tubuh kita.  Agar ingatan akan Allah itu jelas kembali,  kita diminta untuk senantiasa menghadapkan 'wajah'kita ke Kiblat.  Kiblat itu tempat yg juga di sebut sebagai arsy.  Dulu ruh kita pernah dari situ,  dan semoga Allah membimbing kita kembali ke asal kita itu. 

Innalillah, waa inna ilaihi rodjiuun. 

Kembali kepada sholat,  maka fungsi sholat didirikan itu agar,  kita ingat Allah,  menghadapkan wajah kita kepada-Nya.  Itulah cara yang diberikan Allah kepada ruh kita dalam rangka memperoleh "asupan gizi" guna menjalankan tugas ke khalifaan. 

Ruh oleh Allah dibekali potensi yang disebut "nikmat". 

Potensi ini memiliki sifat siddiq, amanah, tabliq dan fathona. 

Dengan sholat,  Allah lipatgandakan kemampuan potensi kita itu.  Sehingga ruh memiliki kemampuan mengendalikan hawa nafsu yang menguasai tubuh,  basyariah, atau insan kita. 

Apa hubungannya dengan masalah kepemimpinan? 

Pemimpin itu adalah ruh yang ada dalam tubuh. Ruh itulah yang memimpin kita. Oleh sebab itu,  perhatikanlah agar memilih pemimpin yang kira kira ruh nya itu sehat,  ruh nya berkualitas.  Bukan bentuk pisiknya. Karena fisik itu di kendalikan oleh ruh. 

Bagaimana kita tahu bahwa ruh yang ada ditubuh seseorang itu sehat?  Gejalanya dapat di amati dari prilaku orang tersebut. Itulah yang biasa disebut karaktek kepemimpinan. 


Oleh sebab itu,  Sholat adalah ibadah yang paling penting. Ibadah yang paling awal akan di hizab di hari kemudian. 

Karakter, sifat,  prilaku sangat dipengaruhi sholat seseorang. 

Ambillah sholat dan sabar sebagai penolongmu. 

Dirikanlah Sholat,  karena sholat itu mencegahmu dari berbuat kemungkaran. 

Semoga Allah swt sennatiasa memberikan bimbingan-Nya kepada kita semua. 

Wabillahitaufiq wal hidayah

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (RF)
Komentar Anda

Berita Terkini