|

Mengkhawatirkan, Masyarakat Dianggap Semakin Terpolarisasi Pasca Pemilu 2019

Faktanews.id - Pemilu serentak 2019 sudah selesai meskipun Komisi Pemilihan Umum (KPU), sebagai penyelenggara, belum mengumumkan secara resmi perolehan suara, baik Pilpres maupin Pileg.

Direktur Eksekutif Indonesian Publik Institute (IPI), Karyono Wibowo mengatakan pesta demokrasi yang berlangsung pada 17 April 2019 lalu masih menyisakan persoalan. Hal itu terlihat dari terpolarisasinya masyarakat.

"Tadinya saya membayangkan setelah pencoblosan selesai persoalan, damai, kembali lagi rujuk, kembali beraktifitas dengan pekerjaan masing-masing. Tapi harapan saya tak sesuai kenyataan," ujar Karyono.

Hal tersebut disampaikan Karyono saat menjadi pembicara diskusi publik bertajuk "Meningkatkan Peran Media Massa Dalam Menciptakan Keamanan dan Ketentraman Pasca Pilpres 2019, Kalah Menang Indonesia Harus Aman dan Damai" di Upnormal, Raden Saleh, kawasan Cikini, Jakarta Pusat (22/4/2019).

Menurut Karyono, polarisasi masyarakat ini terjadi karena beda pilihan politik, terutama dalam konteks Pilpres. Dan itu terjadi di sejumlah tempat, baik di lingkungan masyarakat, intitusi kampus dan intitusi tempat kerja. Menurut Karyono, polarisasi semacam ini merupakan kelanjutan dari Pilpres 2014 silam dan Pilkada DKI 2017 lalu.

"Faktanya hingga hari ini belum selesai. Saya memprediksi, mudah-mudahan prediksi saya salah, di Pemilu 2024 mungkin masih terjadi polarisasi," tandas dia.

Dalam kesempatan itu, Karyono kemudian meminta para elit politik berperan lebih aktif untuk menghentikan polarisisi. Bahkan kalau perlu, lanjut Karyono, elit harus memberikan contoh yang terbaik buat masyarakat.

"Kalau elit mau memberikan contoh kalau mereka bisa berdamai, insya Allah di bawah mengikuti. Bisa dimulai dari dari apakah capres, ketua partai, ulama, maka masyarakat akan mengikuti. Karena budaya kita masih patron klien, masih mengikuti patron," katanya.

"Segeralah para Capres-Cawapres bertemu untuk mengimbau masyarakat menjaga keamanan, ketertiban, jangan ada tindakan yang melanggar," tukas dia.

Sementara itu, Sekjen Ikatan Pesantren Indonesia (IPI), Abdul Fatah menyampaikan bahwa sebenarnya rakyat tidak mempersoalkan siapapun capres-cawapres terpilih. Masyarakat bawah, kata dia, yang menjadi persoalan adalah momentum Pemilu Serentak tak menjadi ajang membenturkan antar anak bangsa, atas nama agama, untuk kepentingan kolompok dan golongan tertentu.

"Apakah kita secara nasional akan seperti itu, dibenturkan untuk hal-hal yang bukan untuk kepentingan bangsa. Kepentingan kita bukan siapa presidennya, kepentingan kita adalah kelangsungan NKRI berdasarkan Pancasila," papar Fatah.

Menurut Fatah, anak bangsa harus mengingat bagaimana perjuangan founding fathers dalam memerdekakan bangsa ini. Tidak hanya umat Islam, tapi ada non muslim yang ikut berkiprah menjadikan Indonesia sebagai negara berdaulat hingga saat ini.

"Sebagai seorang muslim saya yakin, misi Islam adalah rahmatan lil alamin, bukan brahmatan lil muslimin," katanya.

Adapun Wakil Ketua Dewan Pers, Ahmad Djauhar mendorong media massa, baik elektronik, cetak, dan ciber ikut menyejukkan suasana yang terlihat memanas pasca Pemilu Serentak 2019 lalu. Dia juga mengapresiasi peran media massa yang berhasil memberitakan tahapan Pilpres sehingga mendorong partisipasi masyarakat dan ikut andil dalam mengurangi angka Golput.

"Saya juga memberikan apresiasi kepada pers bahwa mereka telah mendorong partisipasi pemilih. Tahun ini golput kurang dari 20 peesen," katanya.

Menurut dia, tantangan pers ke depan tidaklah mudah. Ia harus mengawal kebijakan dan arah pembangunan bangsa ini. Menurutnya, kode etik jurnalistik harus menjadi rujukan dalam setiap penyampain laporan. Selain itu, independensi media massa juga harus dijunjung tingga sehingga tidak mudah intervensi pihak lain.

"Tugas pers pasca pemilu tidak ringan, bukan setelah Pemilu selesai. Pers jangan jadi kompor. Tugas pers seharusnya bagaimana menempatkan sesuatu sesuai porsinya. Jangan karena media tersebut punya ketua partai, dia jadi tidak proporsional," katanya.

"Saya kira tugas media masih banyak. Selain mensukseskan pemilu, tapi juga membantu menciptakan suasana yang damai dan sejuk," katanya. (RF)

Komentar Anda

Berita Terkini