|

Kesalahan Suvei Kompas

(Denny JA)
FaktaNews.id - Dengan senang hati saya merespon begitu banyak pertanyaan soal survei Kompas dan esai saya: Apakah Litbang Kompas Berpolitik? Respon saya kali ini justru masuk pada isu yang lebih besar: kesalahan logika. Dalam bahasa kerennya disebut Logical Fallacy

Saya uraikan dulu apa itu logical fallacy yang relevan dalam tulisan ini. Juga saya detailkan dimana salahnya survei Kompas  bulan maret 2019 itu dari kaca mata ilmu statistik.

-000-

Saya justru ingin mulai dengan kisah Ajinomoto. Para emak-emak pasti akrab dengan bumbu masak ajinomoto. Bagi mereka yang sudah menjadi remaja atau dewasa di tahun 70-an dan 80-an, ajinomoto sangat terkenal sekali. Saat itu ia berulang-ulang diiklankan, dengan bintang pelawak favorit: S. Bagyo.

Taglinenya: dengan menggunakan ajinomoto maka masakan apapun akan sedap. Ajinomoto menjadi otoritas yang membuat sedap apapun yang disentuhnya. Karena ajinomoto sedap untuk makanan mie bakso, ia juga akan sedap untuk soto ayam, sop buntut, ayam goreng dan lain sebagainya.

Tokoh dan lembaga yang mempunyai otoritas dalam opini publik, walau ia tak minta, ia juga segera punya efek ajinomoto. Karena ia begitu terjaga reputasi di satu isu, seolah-olah ia pasti terjaga juga reputasinya pada isu yang lain. Itu pandangan awam.

Tapi dari sisi tertib berpikir, efek ajinomoto itu adalah salah satu bentuk kesalahan logika yang acapkali terjadi. Ini yang disebut kesalahan logika karena “appeal to authority.”

Seolah olah seorang tokoh atau lembaga yang memiliki reputasi di bidang, katakanlah teknologi, pasti semua pandangannya soal teknologi, terjamin benar. Bahkan pandangannya soal budaya dan politik juga mendadak berwibawa. Itu karena otoritasnya punya efek ajinomoto.

Untuk kasus Kompas, hal sama bisa diterapkan. Karena Kompas sangat terjaga sebagai lembaga media dan pers yang baik, pasti ia akan baik juga jika menjadi lembaga survei. Apalagi jika ia membiayai surveinya sendiri, pasti hasil surveinya lebih berkualitas.

Inilah logical fallacy, kesalahan logika, efek ajinomoto yang banyak mewarnai debat soal survei Kompas. Termasuk debat soal tulisan saya yang merespon Kompas.

-000-

Harus diakui untuk semua standard, Kompas itu lembaga pers yang bagus. Tapi itu tak otomatis Kompas pasti bagus juga sebagai lembaga survei. Bahkan jika Kompas pernah bagus dalam banyak kasus survei, belum tentu juga Kompas bagus dalam survei di bulan maret 2019 itu.

Saya tunjukkan lebih detail dimana salahnya Kompas dalam mengambil kesimpulan atas datanya sendiri! Ini kasus survei yang dipublikasi hari rabu 20 maret 2019 itu. Survei soal calon presiden.

Judul di harian Kompas sangat mencolok. Ia di halaman satu paling kanan, atas: Persaingan di Ruang yang Menyempit. Dua kesimpulan yang diambil dalam kata kata Kompas sendiri:

Pertama: “jarak keterpilihan makin sempit antara pasangan Joko Widodo- Ma’ruf Amin dan Pasangan Prabowo Subianto- Sandiaga Uno.”

Kedua: Trend penurunan suara pasangan no 01.

Angka survei dalam dua periode waktu pun dipaparkan. Pada bulan Oktober 2017:  Jokowi-Ma’ruf 52,6 persen. Prabowo-Sandi 32.7 persen. Pada bulan Maret 2018: Jokowi-Ma’ruf 49,2 persen. Prabowo-Sandi 37.4 persen. Disebut pula margin of error 2.2 persen.

Benarkah cara Kompas menarik kesimpulan atas datanya sendiri?  Validkah menyimpulkan dukungan Jokowi-Ma’ruf menurun dan selisih dua capres ini mengecil? Benarkah itu yang terjadi dalam realitas faktual dukungannya?

Kita pahami dulu konsep statistik yang bernama margin of error. Istilah itu muncul karena hasil survei itu bukanlah berdasarkan sensus penduduk, tapi hasil sampel yang kecil saja. Dalam survei Kompas misalnya, sampelnya hanya 2000, sedangkan populasi pemilih Indonesia 197 juta.

Dengan sendiri survei itu tak bisa tepat menggambarkan realitas faktual yang sebenarnya. Ada rentang variasi plus minus antara realitas faktual dengan angka survei.

Katakanlah hasil survei itu 60 persen, dan margin of error itu 3 persen. Maka realitas faktual yang sebenarnya ada dalam rentang 60 persen dengan minus dan plus 3 persen.

Dukungan survei 60 persen itu, dengan margin of error 3 persen, pada dasarnya gambaran realitas faktual di angka 57 persen hingga 63 persen. Angka 57 persen itu realitas batas bawah. Angka 63 persen itu realitas batas atas. Angka dari 57-63 persen itu, angka yang mana saja bisa benar.

Inilah cara membaca data survei untuk diterjemahkan menjadi realitas faktual. Jangan lupakan margin of error.

Dalam survei kadang disebut pula level of confidence, misalnya 95 persen. Itu bisa dibaca dengan pengertian, jika saya mengambil sampel hingga 100 kali, maka 95 kali (95 persen), hasilnya akan berada di rentang angka yang sama.

Jika ingin lebih detail soal konsep statistik itu dapat dibaca buku standard soal statistik, karya Timothy C Urdan: Statistic in Plain English, 2001

-000-

Sekarang konsep di atas kita uji pada kesimpulan Kompas. Benarkah kesimpulan Kompas bahwa dukungan Jokowi menurun dari 52.6 persen menuju 49, persen, dengan standard of error 2,2 persen.

Angka survei Jokowi bulan Oktober 2018:  52.6 persen itu menggambarkan realitas yang sebenarnya di antara 52.6 minus 2.2 persen persen (50.4 persen) hingga  52.6 persen plus 2.2 persen (54.8 persen). Realitas faktual dukungan jokowi pada bulan Oktober 2018 ada di antara batas bawah 50.4 persen hingga batas atas 54.8 persen.

Angka survei Jokowi bulan Maret 2019: 49,2 persen itu menggambarkan realitas sebenarnya di antara 49.2 persen minus 2.2 persen (47 persen) hingga 49.2 persen plus 2.2 persen (51.4 persen). Realitas dukungan Jokowi bulan Maret 2019 ada di antara batas bawah 47 persen hingga batas atas 51.4 persen.

Inilah kesimpulan statistik! Survei Jokowi yang kesannya menurun dari 52.6 persen (oktober 2018) menuju 49.2 persen (Maret 2019), dalam realitas faktual bisa saja justru menaik! Justru bertambah!!

Itu bisa terjadi  karena di bulan oktober Jokowi itu mungkin 50.4 persen (batas bawah). Sementara di bulan Maret 2019, realitas faktual Jokowi mungkin di angka 51.4 persen (batas bawah)

Ternyata hasil survei yang terkesan menurun dari 52,6 persen ke 49.2 persen, dalam realitas faktualnya BISA SAJA JUSTRU menaik dari 50.4 persen menuju 51.4 persen!! Inilah cara membaca statistik.

Kompas tak bisa menyimpulkan dukungan pada Jokowi menurun!!! Selisih dua survei itu masih dalam rentang margin of error! Menyimpulkan Jokowi menurun padahal masih dalam rentang margin of error itu kesalahan fatal. Dan itu kesalahan yang sebenarnya elementer!

-000-

Hal yang sama terjadi pada kesimpulan yang menjadi judul: Persaingan di ruang yang menyempit. Benarkah selisih kemenangan Jokowi di bulan oktober 2018 ke Maret 2019 itu menyempit?

Kita dapat menerapkan prinsip margin of error yang sama. Di bulan oktober 2018, Jokowi 52.6 persen. Prabowo 32.7 persen. Dengan margin of error 2.2 persen, bisa saja realitas Jokowi yang sebenarnya 50.4 persen (batas bawah). Realitas Prabowo yang sebenarnya 34.9 persen (batas atas: 32.7 persen plus 2.2 persen). Jarak realitas faktual antara Jokowi dan Prabowo di bulan Oktober adalah 50.4 persen (batas bawah) - 34.9 persen (batas atas). Selisihnya hanya 15.5 persen saja.

Di bulan Maret 2019, Jokowi 49.2 persen. Prabowo 37.4 persen. Dengan margin of error 2.2 persen, bisa saja realitas faktual Jokowi itu 51.4 persen (batas atas). Sedangkan realitas faktual Prabowo itu 35.2 persen (batas bawah). Selisih kemenangan faktual Jokowi versus Prabowo di bulan Maret 2019 menjadi 51.4 persen- 35.2 persen sama dengan 16.2 persen!

Aha!! Ternyata jarak kemenangan realitas faktual Jokowi di bulan oktober 2018  ke Maret  2019 bertolak belakang dengan judul berita Kompas!

Selisih kemenangan itu bukan menyempit tapi melebar. Ternyata dengan menerapkan margin of error, di bulan Oktober 2018 selisihnya bisa saja hanya 15.5 persen. Sementara di bulan Maret 2019, selisihnya melebar menjadi 16.2 persen!

Apa yang bisa kita pelajari di sini? Angka statistik itu berbeda dengan angka nominal. Menurun dalam pengertian nominal, dari 52.6 persen menuju 49. 2 persen ternyata punya probabiltas jusru menaik, dari 50.4 persen (oktober 2018) menuju 51.4 persen (Maret 2019).

Dari bulan Oktoner 2018 ke Maret 2019, secara  nominal jarak kemenangan Jokowi mengecil. Tapi secara statistik dengan menerapkan margin of error, ia punya probabilitas  selisih kemenangan realitas faktual justru melebar!

-000-

Kembali pada efek ajinomoto dan logical fallacy. Kompas memang bagus sebagai lembaga pers. Tapi sebagai lembaga survei, Kompas terbukti salah dalam mengambil kesimpulan setidaknya untuk survei bulan Maret 2019.

Namun lihatlah eforia politik yang disebabkan survei Kompas. Inilah kasus dimana sebuah kesimpulan yang salah telah menyebabkan eforia politik yang begitu besar di kalangan pendukung Prabowo. Seolah olah ini pertanda kemenangan. Padahal itu pertanda salah membaca data statistik belaka.

Dalam sejarah Pilpres 2019, salah membaca data statistik yang menyebabkan  eforia politik akan dicatat sebaga tragedi kah? Atau komedi?

Oleh: Denny JA
Komentar Anda

Berita Terkini