|

Potensi Ancaman dan Kerawanan Pemilu Serentak Dinilai Mengkhawatirkan

(Diskusi Potensi Ancaman dan Kerawanan Pemilu Serentak 2019)
FaktaNews.id - Sejumlah hal dinilai berpotensi mengancam Pemilu Serentak yang bakal berlangsung pada 17 April 2019 mendatang.
Hal tersebut disampaikan para narasumber yang menjadi pembicara diskusi publik bertajuk "Potensi Ancaman dan Kerawanan Pemilu Serentak 2019" di Resto Nanami Ramen, Hotel Ibis Budget, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2/2019).

Hadir sebagai narasumber adalah Pengamat Intilejen dan Keamanan, Stanislaus Riyanto, Pengamat Pemilu Herminus Koto, Pengamat Politik Adi Prayitno, Direkur Eksekutif IPI Karyono Wibowo, Komisionar Bawaslu Rahmat Bagja. Diskusi ini diselenggarakan Institute Publik Institute (IPI).

Stanislaus Riyanto menyampaikan potensi ancaman pesta demokrasi nanti diantaranya berada pada penyelenggara Pemilu sendiri.

"Ketidaknetralan ASN dan penyelenggara pemilu itu sendiri, masalah DPT, dan pendistribusian logistik," ujar Stanislaus.

Potensi ancaman lainnya, kata dia, adalah adanya sabotase dan teror terhadap penyelenggara Pemilu. Dia kemudian menyebut ledakan yang terjadi di Senayan sebelum debat capres kedua, menjadi salah satu contoh teror Pemilu.

"Ledakan di senayan tak bisa disepelekan, itu adalah kelompok-kelompok teror yang tidak setuju sistem demokrasi," katanya.

Stanislaus juga memaparkan adanya organisasi terlarang yang menjadi pendukung salah satu pasangan capres-cawapres. Diketahui, organisasi terlarang adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

"Ada organisasi terlarang dan ada dibarisan tertentu," katanya.

Lalu apa solusi dari potensi ancaman tersebut, Stanislaus mengatakan penyelenggara Pemilu harus memastikan bahwa pesta demokrasi akan berlangsung JURDIL.

"Harus dipastikan bahwa DPT tak bermasalah. Kemudian logistik harus terdistribusi. Kita harus tutup kerawanan dan partisipasi masyarakat harus ditingkatkan," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan Herminus Koto. Dia mengatakan index kerawanan pemilu yang diluncurkan Bawaslu, sudah tidak relevan. Potemsi ancaman yang dapat mengacakan Pemilu adalah kelalaian penyelenggara Pemilu soal DPT.

"Hampir semua pengamat mengatakan pemilu 2014 itu terjadi kerusuhan. Tapi itu tidak terjadi," katanya.

Sementara itu, Karyono Wibowo menyampaikan potensi ancaman dan kerawanan Pemilu harus bisa diantisipasi.

Sebab, kata dia, potensi ancaman Pemilu belakangan ini cukup mengkhawatirkan. Hal itu dapat dilihat dari maraknya politik identiyas, SARA, propaganda agama yang jadi alat politik. Bahkan, menurut dia, ancaman pemilu itu sudah terjadi. Lihat saja misalnya ledakan di Senayan saat Debat Capres kedua dan pembakara zepeda motor Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Apa yang dikatakan pak Mahfud MD, saya juga punya pendapat yang sama,, ada upaya yang ingin menggagalkan Pemilu," katanya. (RF)

Komentar Anda

Berita Terkini