|

Diskusi PGK: Polri Tak Bisa Sendirian Perangi Hoaks

(Dari Kiri ketum PB HMI Saddam Al Jihad, Muhammad Qodari, Irjen Pol Muhammad Iqbal, dan Bursah Zarnubi) dalam diskusi PGK: Sikap Cerdas Generasi Milenial: Menangani Hoaks dengan Konstruktif Solutif, Rabu (20/2/2019)
FaktaNews.id - Kepala Devisi Humas Polri, Irjen Pol. Muhammad Iqbal menyampaikan Polri tidak akan membiarkan peredaran berita hoaks terus mengalir. Sebab, berita hoaks tersebut dapat mengacam persatuan dan keutuhan NKRI.

Hal tersebut disampaikan Iqbal saat menjadi pembicara diskusi publik bertajuk "Sikap Cerdas Generasi Milenial: Menangani Hoaks dengan Konstruktif Solutif" di kantor Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (DPP PGK) Duren Tiga, Jakarta Selatan (20/2/2019).

Menurut Iqbal, Polri tidak bisa sendirian memerangi hoaks. Perlu ada kesadaran dari semua elemen masyarakat untuk membantu Polri dalam mecegah peredaran hoaks. Apalagi, kata dia, peredaran hoaks sepanjang 2018 dan menjelang pelaksanaan Pemilu serentak ini terus meningkat.

"Dalam kontestasi politik, hoaks bertambah. Sejak tahun 2015, peningkatannya pesat. Paling banyak terkonsentrasi di Jawa," ujar Iqbal.

Iqbal maminta semua elemen mewaspadai peredaran berita hoak, dan mengedepankan rasa nasionalisme. Menurut Iqbal, jika tak diwapadai dan diperangi secara bersama-sama hoaks cukup berbahaya dan dapat memproraporandakan keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa.

"Tunjukkan rasa nasionalisme kita. Jangan korbankan NKRI," katanya.

Menurut Iqbal, saat ini Polri mengedepankan pencegahan dibanding memproses pelaku penyebar hoaks. Sebab, kata dia, Polri saat ini adalah Polri yang promoter
"Kami melakukan terobosan berbasis IT dan melakukan pendekatan pre-emtif dan preventif melalui sosialisasi literasi media dan solusi bernuansa kekinian," katanya.

Lebih lanjut, Iqbal mengatakan tidak semua kasus hoaks yang ditangani Polri diproses dan dilanjutkan ke persidangan. Misalnya, kata Iqbal, selama 2018 ada 52 kasus yang ditangani Polri.

"Tapi hanya 18 yang dilanjutkan ke persidangan," katanya

Iqbak mencontohkan kasus yang ditindak Polri dengan capat adalah kasus hoaks gempa susulan di Palu, kasus Ratna Sarumpaet, hoaks pernyerangan tokoh agama sebagai tanda kebangitan PKI, 7 kontainer surat suara sudah tercoblos. Sebab, beberapa kasus tersebut cukup meresahkan masyarakat.

Menurut Iqbal, upaya Polri mencegah hoaks adalah preventif guna memberikan edukasi melalui diskusi dengan pakar, baik informal maupun santai.

"Misalnya millenial road safty festival, goes to campus, kampanye anti hoaks, lomba dan event, silaturahmi Kamtibmas dan lain-lain," katanya.

Hal yang sama juga dikatakan pengamat politik, Muhammad Qodari. Menurutnya, fenomina penyebaran hoaks di era digital telah membuat kecemasan dan keprihatinan masyarakat.

Menurut Qodari, sejak media sosial eksis dan dimanfaatkan secara luas untuk berkomunikasi, sekaligus menyampaikan isi hati, pikiran, hoakpun bermunculan. Medos sendiri diketahui didominasi generasi milenial.
"Generasi milenial nerupakan kolompok yang rawan terpapar hoak, tidak sedikit diantara mereka tanpa berpikir panjang langsung menshare informssi yang tidak jelas, bahkan juga ada yang memproduksi ulang informasi tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkam setelahanya.

Untuk diketahui, diskusi yang diselenggaran PGK ini dihadiri ratusan aktivis lintas kampus. Mereka mayoritas sebagai generasi milenial, yang hidupnya tak lepas dari gadjet dan media sosial. (RF)
Komentar Anda

Berita Terkini