|

Bursah Zarnubi Khawatir Jika Generasi Milenial Tak Diedukasi

(Ketua Umum PGK Bursah Zarnubi saat memberikan sambutan pada diskusi "Sikap Cerdas Generasi Milenial: Menangani Hoaks dengan Konstruktif Solutif" di kantor PGK 20 Februari 2019)
FaktaNews.id - Ketua Umum DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Burzah Zarnubi mengatakan, generasi milenials adalah pihak yang sangat besar dan signifikan peranannya sebagai calon pemimpin bangsa kedepan.

Kalau tidak diberikan edukasi dan difasilitasi dalam pengembangan katakter dan cara berfikir mereka, Burzah khawatir bangsa Indonesia akan menghadapi banyak kesulitan di masa mendatang.

“Kenapa milenial menarik? Karena 15 sampai 20 tahun kedepan merekalah yang akan mengisi ruang-ruang politik dan kepemimpinan bangsa Indonesia. Maka penyiapan kualitas sumber daya manusia (SDM) milenials sangat menentukan,” ujar Burzah dalam diskusi bertema "Sikap Cerdas Generasi Milenial: Menangani Hoaks dengan Konstruktif Solutif" di Sekretariat PGK, Jl. Duren Tiga Ray No.7 Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/2019).

Diskusi itu menghadirkan pembicara Kepala Devisi Humas Polri Irjen Pol. Muhammad Iqbal, Pengamat Politik Muhammad Qodari, Ketum PB HMI Saddam Al Jihadi dan dihadiri para aktivis mahasiswa dan kalangan anak-anak muda.

Kata Burzah, generasi milenials memiliki fenomena sendiri karena sudah terikat erat dengan perkembangan teknologi informasi, khususnya media sosial. Mereka sehari-hari bergelut dengan HP dan internet.

Dari sekitar 97 juta orang milenial, jelas Burzah, 90 persen diantaranya aktif mengakses internet. 87 persen aktif di Facebook, 70 persen di WhatsApp, lalu 50 persen aktif di Instagtam, dan untuk Twitter sekitar 20 persen.
“Dan ingat, media sosial adalah tempatnya informasi yang selalu berseliweran. Bahkan banyak informasi itu hoaks maupun badnews yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya,” jelasnya.

Burzah yang juga aktivis serta politikus kawakan menegaskan, media sosial telah menjadi ruang perang baru bagi generasi milenial. Dunia cyber pun telah menjadi alat membangun opini maupun kampanye politik.

“Maka itulah perlu edukasi lebih lanjut agar generasi milenials bisa melakukan filter. Bisa membuat benteng sendiri menghadapi perang informasi. Sebab kalau tak ada edukasi, maka masa depan sosial maupun masa depan kebangsaan Indonesia akan terancam,” jelas Burzah.

Sementara itu, M Qodari mengatakan, kedekatan kalangan milenials dengan internet memiliki konsekuensinya sendiri. Misalnya fenomena hoaks. Sehari-hari mereka hidup dengan handphone. Mulai bangun tidur, makan, sholat dan aktivitas lainnya hingga mau tidur lagi selalu pegang handphone.

“Dari 24 jam, mereka hidup di dunia nyata sekitar 9 jam dan di dunia maya 9 jam. Sisanya 8 jam tidur,” beber Qodari.

Ia menjelaskan, salah satu ciri utama dunia media sosial adalah anonimitas.
Dalam dunia nyata, identitas seseorang hanya satu, sedangkan kalau dunia maya dia bisa banyak identitas dan punya banyak akun sosial.
“Anonimitas ini kemudian melahirkan hilangnya tanggungjawab.
Kalau secara langsung face to face di dunia nyata orang tak berani mengungkapkan sesuatu yang jelek-jelek, maka kalau dunia maya apa pun akan keluar. Bahkan kata-kata yang paling jelekpun akan keluar,” tegas Qodari.

Akses media sosial yang sangat luas ini kemudian menjadi alat pembangun opini. sampai-sampai ungkapan kebencian pun secara bebas berseliweran.

“Maka tak heran jika sosmed dijadikan alat membangun opini ataupun dijadikan alat politik sepwrti fenomena jelang Pilpres hari ini,” tandas Qodari.
Komentar Anda

Berita Terkini