|

Sampaikan Kuliah Umum di UNAS, Wakasatgas Nusantara Berbicara Kualitas dan Tantangan Pemilu 2019

(Wakil Kepala Satgas Polri Brigjen Pol Fadil Imran saat menyampaikan kuliah umum di Aula Universitas Nasional Jakarta)



FaktaNews.id - Wakasatgas Nusantara Polri, Brigjen Pol Fadil Imran memberikan kuliah umum di Aula kampus Universitas Nasional, Jakarta Selatan, Kamis (24/1/2019). Ratusan mahasiswa dan aktivis tampak serius mendengarkan pemaran Fadil pada acara bertajuk "Peranan Pemilih Milenial dalam Mewujudkan Demokrasi yang Berkualitas di Tahun 2019” itu.

Dalam kesempatan itu, Fadil menyampaikan tahapan Pemilu, baik legislatif maupun Presiden, yang akan berlangsung pada 17 April 2019 mendatang.  Menurut Fadil, kualitas pesta demokrasi nasional lima tahunan ini harus dijaga secara bersama-sama. Sebab, untuk menjadikan Pemilu yang berkualitas tentunya akan mengalami tantangan dan hambatan.

“Oleh sebab itu, dipandang perlu keterlibatan segenap elemen masyarakat, termasuk di dalamnya kelompok milenial agar menghasilkan pemilu yang berkualitas,” kata Fadil.

Fadil menjelaskan, dengan jumlah penduduk yang besar dan kekayaan sumber daya alam, Indonesia rawan akan potensi konflik. Apalagi, saat ini zamannya media sosial. Kalau tidak hati-hati memposting informasi di media sosial, maka akan menjadi persoalan.

“Kalau kita tidak hati-hati dalam mengelola negara ini, tidak hati-hati dalam tahapan 3 bulan ke depan, maka bisa bahaya. Makanya pemilu ini perlu kita songsong sebagai pesta yang menimbulkan rasa aman, yang hadir dengan kesejukan dan kedamaian,” terangnya.

“Pesta demokrasi ini harus menjadi pesta yang menggembirakan untuk memilih pemimpin yang berkualitas,” tambahnya.

Fadil menjelaskan, dalam pemilu kali ini, akan diikuti oleh 20 partai politik (parpol), dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Daftar pemilih tetap (DPT) dalam pemilu kali ini ada sekitar 186 juta dan sekitar 2 juta di luar negeri.

Dia mengungkapkan, disamping internal partai sendiri memperebutkan kurang lebih 20 ribu kursi, bertarung secara internal supaya jadi anggota dewan. Parpol juga bertarung bagaimana bisa lolos parliamentary threshold (PT) 4 persen.

Selain itu, dia mengatakan, kalau kita ingin menjadi negara besar, maka ada dua persyaratan yang harus dipenuhi. Yang pertama, harus aman, agar pembangunan ekonomi kita ini berkelanjutan. Yang kedua, pemerintahan harus kuat.

“Sebgaimana disebutkan para pakar dan beberapa survei, Indonesia di tahun 2045 akan menjadi salah satu negara terbesar di dunia, Indonesia akan menjadi 4 besar di dunia dalam pertumbuhan ekonomi. Siapa yang berperan nantinya, adik-adik mahasiswa ini semua,” terangnya.

“Makanya kenapa pemilu 2019 ini sangat-sangat strategis untuk menciptakan pemerintahan yang kuat melanjutkan pembangunan,” lanjutnya.

Oleh karena itu, lanjit dia, gangguan kamtibmas seperti radikalisme, terorisme, cyber crime, hate speech, hoaks, fake news, itu adalah penyakit yang bisa mengganggu pemilu yang berkualitas. Disamping money politic dan black campaign.

“Itu yang bisa mengganggu. Ini yang harus kita hadapi bersama, untuk mendapatkan pemilu yang berkualitas,” tandasnya. (RF)
Komentar Anda

Berita Terkini