|

Bursah Zarnubi Soroti Lemahnya Literasi Generasi Milenial

(Ketum PGK Bursah Zarnubi memberikan sambutan pada diskusi “Generasi Milenial dan Politik untuk Merawat Keutuhan NKRI”, di Cozy Amos Hotel, Jaksel)
FaktaNews.id - Peradaban sebuah bangsa tidak akan pernah maju dan berkembang jika masyarakatnya lemah akan literasi. Zaman sudah berubah, perkembangan tekhnologi cukup cepat, maka itu masyarakat dituntut mengikuti perkembangan zaman. Era digitalisasi yang menjadi ciri khas generasi milenial, tentunya dituntut memperkuat literasi. Dengan demikian, mereka dapat memberikan sumbangsih pemikiran dan gagasan untuk ikut memecahkan segala persoalan yang melanda bangsa dan negara Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), Bursah Zarnubi saat memberikan sambutan pada acara diskusi bertajuk “Generasi Milenial dan Politik untuk Merawat Keutuhan NKRI”, di Cozy Amos Hotel, Melawai, Jakarta, Selasa (8/1/2019). Diskusi ini diselenggarakan oleh oleh Generasi Satu Indonesia (G1I) bekerjasama dengan Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (DPP PGK).

Di hadapan ratusan mahasiswa dan aktiivis, Bursah mengatakan, untuk memperkuat literasi, generasi milenial harus rajin membaca buku-buku kepustakaan dan memanfaatkan teknologi untuk memperluas pengetahuan dan wawasan. Hanya dengan memperkuat literasi, narasi kebangsaan akan terus terbangun dan terhindar dari sebaran informasi hoaks.

“Literasi yang akan memperkuat kita untuk memilih narasi, mana yang hoaks mana yang bukan. Yang harus kita lakukan adalah kita harus belajar banyak. Smartphone perspustakaan global, bukalah ilmu pengetahuan dalam google itu,” tegasnya.
Bursah kemudian mengutip seorang futurolog Alvin Toffler. Pada tahun 1970, ia menulis Trilogi buku, yaitu “Kejutan Masa Depan”, “Gelombang Ketiga”, dan “Powershift”. Menurut dia, ketiga buku Alvin Toffler tersebut merupakan satu mata rantai menggambarkan atau mengimajinasikan satu format masa depan yang sebenarnya tidak susah.

"Salah satu proses yang bisa kita ikuti adalah kejutan tekhnologi yang begitu cepat. Kumputer sebetulnya sudah ditemukan pada awal tahun 40-an, tapi masih berfungsi offline, digunakan untuk mendesain kapal selam, pesawat, dapat mengendalikan yang tersambung dengan internet," katanya.

"Jadi begitu kuat lompatan ini. Alvin Toffler pada tahun 70 an meramalkan bahwa kita akan masuk lebih perubahan yaitu dunia digital yang disambungkan oleh perkembangan komunikasi informasi dan perhubungan," katanya.

Menurut Bursah, jika tidak ada persiapan yang cukup siginfikan dari masyarakat terkait dengan perkembangan teknologi maka jangan harap peradaban sebuah bangsa dapat berkembang. Semuanya akan hancur lebur jika sebuah bangsa tidak memperkuat literasi dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

"Kalau kita tidak memulai dengan persiapan yang cerdas termasuk organisasi seperti anda-anda ini, termasuk juga kampus, kalau kampus juga tidak bisa, maka akan hancur, perusahaan-perusahaan juga hancur, Nokia hancur sebentar lagi, kemudian kodak juga udah hancur," tandasnya.
"Oleh karena itu adik-adik sekalian, mengapa kita perlu literasi ini? Karena bangsa ini belum lama membangun peradabannya. Setiap peradaban yang bersatu dengan biasanya maka literasinya sangat kuat, literasi itu adalah tingkat belajar, pendidikan, kekuatan kita menerima dan menyaring informasi itu literasi," katanya.

Dalam kesempatan itu, Bursah menyebutkan bahwa tingkat literasi Indonesia berada pada posisi ke 61, sedikit lebih unggul dari Afrika. Hanya saja, dari tingkat 61 itu, Bursah menamabahkan bahwa hanya 1 dari 1000 orang yang gemar membaca. Itupun durasi waktunya tidak terlalu cukup lama. Padahal, kemajuan peradaban sebuah bangsa tingkat kegemaran membaca masyarakatnya adalah 1 sampai 5 jam dalam sehari. Sementara buku yang dibaca minimal 3 buah buku.

"Jadi, kita harus belajar banyak, gunakan smartphone itu untuk membaca ilmu penegtahuan. Saya yakin smartphone ini perpustakaan glolobal atau perpustakaan dunia. Jadi bacalah, sambil makan baca, sambil mau tidur silakan baca. Dimanapun anda berada bukalah ilmu pengetahuan didalam google. Dan kalau kalian manfaatkanfungsinya InsyaAllah dalam jangka beberapa waktu akan menjadi orang-orang hebat, terutama anda akan mulai mengerti memahami perubahan itu," katanya. (RF)

Komentar Anda

Berita Terkini