|

Bursah Zarnubi Dorong Generasi Milenial Tingkatkan Literasi

(Ketua Umum PGK Bursah Zarnubi saat menjadi pembicara diskusi di Aula kampus Universitas Nasional Jakarta)
FaktaNews.id - Ketua Umum Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), Bursah Zarnubi menjadi pembicara diskusi publik bertajuk "Peranan Pemilih Milenial dalam Mewujudkan Demokrasi yang Berkualitas di Tahun 2019”. Diskusi tersebut digelar di Aula kampus Universitas Nasional, Jakarta Selatan, Kamis (24/1/2019). Ratusan mahasiswa dan aktivis tampak memenuhi ruangan Aula.

Dalam kesempatan itu, Bursah mendorong mereka untuk lebih giat belajar dalam rangka memperluas wawasan dalam khasanah pengetahuan. Menurut Bursah, mahasiswa sebagai generasi muda milenial harus ikut andil menentukan transformasi sosial politik di masa depan. Pasalnya, dalam 20 hingga 40 tahun ke depan, merekalah yang akan mengisi banyak tekno struktur, sistem politik, dan sistem demokrasi di tanah air

“Nah kalau anak-anak milenial ini tidak diberikan informasi yang positif, yang memberikan prospek pada pertumbuhan ekonomi bangsa, maka dia akan terjebak dengan keadaan yang sulit menghindar dari dunia maya," kata Bursah.

Dijelaskan Bursah, generasi milenial yang lahir di awal tahun 90 sampai sekarng ini, sebagian besar dari mereka menggunakan gadget. Mereka akan mengikuti banyak informasi karena kemajuan digital, kemajuan dunia informasi sekarang ini, dan sangat tergantung dengan gadget, karena itu, perlu filter.

“Karena perang politik ini sudah menggejala di dunia maya, maka harus ada filter melalui kekuatan literasi. Literasi yang pertama itu kita harus belajar bagaimana mengendalikan informasi di dunia maya,” terang Bursah.

Karena milenial sehari-hari akrab dengan gadget, Bursah meminta agar mereka memanfaatkan itu sebaik-baiknya untuk mengetahui sains dan teknologi. Selain itu, dia juga menganjurkan agar platform-platform di media sosial diisi dengan konten positif. Apakah itu platform Whatsapp, instagram, twitter, dan lain sebagainya.

“Disamping literasnya perlu postif, ada ancaman hukuman jika kita tidak bijak menggunakan media sosial. Jangan anda gara-gara jempol dua ini dikurung penjara 5 tahun. Maka hati-hati sekali, harus ada sistem komunikasi, jangan sampai satu berita yang anda anggap baik (bagus), langsung diupload, diforward. Dia bagus, tapi gak bermanfaat, maka jangan dishare. Apalagi kalau fake news, berita palsu, itu jangan,” ungkapnya mengingatkan.
Bursah menjelaskan, kecepatan informasi dan teknologi yang ada sekarang ini semakin menyempitkan dunia. Apa yang terjadi di belahan selatan dunia, dalam hitungan detik bisa diketahui oleh orang di belahan utara dunia.

“Ini artinya perang cyber ke depan ini, dia bukan saja akan menimbulkan huru hara di dunia maya, tapi juga bisa mengancam masa depan bangsa kita kalau kita tidak hati-hati. Sebagaimana internet mempengruhi pemilihan umum di AS, bagaimana internet mempengaruhi perang antar bangsa pada masa-masa yang akan datang. Ini yang perlu diketahui oleh kita semua,” terangnya.

Selain itu, menjelang pemilu ada isu-isu yang membuat dinamika politik sangat panas, karena ada isu SARA, isu identitas, berita hoaks dan lain sebagainya.

“Ini yang membuat panasnya situasi, sehingga banyak blocking-blocking di masyarakat menyebutkan macam-macam kebencian. Nah dalam konteks kebangsaan kita, ini bukan saja membahayakan, tapi bisa menghancurkan persatuan kita,” tutur Bursah.

Lebih lanjut Bursah memaparkan, Indonesia terdiri dari 17 ribu pulau, dan ada banyak etnis. Hal ini jika tidak dimanage dengan baik, maka akan membahayakan negara kesatuan ini. Dijelaskannya, negara yang homogen saja seperti Suriah, karena diintrik melalui isu sunni dan syiah, sampai sekarang sudah 6 tahun perang telah membunuh 600 ribu orang, 3 juta orang eksodus mencari tempat aman.

Karenanya, Bursah berharap milenial bisa menyaring informasi di lalu lintas dunia maya supaya bisa memberikan kontribusi kepada pemilu yang damai.

“Kedua, usahakan sebaik mungkin adik-adik membuat komunitas-komiunitas baru untuk menggelorakan, mengkampanyekan bahwa pemilu ini pesta demokrasi, bukan pesta politik, agar kita sambut dengan riang gembira. Dan yang ketiga, jangan terpancing dengan isu-isu. Karena susah sekali memperbaiki Indonesia kalau 34 provinsi kita ini pecah bikin negara masing-masing. Suriah yang homogen saja sudah 6 tahun gak seleai-selesai karena ada intervensi asing,” terangnya.

“Waktu pemilu sudah dekat, ikutlah kampanyekan damai, terserah anda mau milih siapa, tapi yang penting pemilu damai, yang menang atau kalah harus saling mengakui, itu yang harus dipegang. Karena adik-adik milenial ini, akan menentukan masa depan kita 20-40 tahun yang akan datang,” pungkasnya. (RF)

Komentar Anda

Berita Terkini