|

Pesan Bursah Zarnubi Kepada Generasi Muda Pada Rakornas dan Lokakarya PGK


FaktaNews.id - Ketua Umum Perkumpulan Gerakan Kebangsaan Bursah Zarnubi memuji setinggi langit peran kaum muda. Menurutnya, kaum muda adalah tonggak sejarah perubahan bagi bangsa ini.

Hal itu disampaikan Bursah saat membuka Rapat Koordinasi Nasional PGK di Hotel Redtop, Jakarta, Minggu, 16 Desember 2018. Acara bertajuk “Membangun Literasi Digital untuk Memperkokoh Narasi Kebangsaan Menuju Indonesia Maju dan Berkepribadian” ini berlangsung selama tiga hari, yakni dari 16-18 Desember 2018.

Rakornas dan Lokakarya ini diikuti oleh 270 kaum milenial yang aktif di berbagai organisasi mahasiswa dan pemuda, terutama kelompok Cipayung. Mereka mewakili seluruh provinsi dari Sabang sampai Merauke.
Sesuai agenda, Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara akan membuka Lokakarya  dan menyampaikan keynote speech pada Senin, 17 Desember 2018.

“Kita harus sungguh-sungguh untuk memberdayakan PGK ini supaya menambah capacity building kita. Kita jangan sia-siakan waktu untuk mengisi sejarah kebangsaan kita,” kata Bursah dalam sambutannya sesaat sebelum membuka Rakornas PGK ini.
Mantan ketua umum Partai Bintang Reformasi ini kemudian mengutip berbagai tokoh dunia, termasuk salah satunya adalah seorang pemimpin spritu dan politikus dunia Mahatma Gandhi.

“Ini lebih penting lagi ke depan karena saya mengutip Gandhi dan beberapa tokoh dunia, bahwa anak-anak muda itu memang tenaganya sejarah. Jadi tanpa anak muda sejarah itu tidak ada dinamisatornya,” jelasnya.

“Jadi dia tidak bergerak karena sesuai dengan naturenya anak muda itu memang selalu penuh dengan inovasi, keberanian, dan idealisme, karena dengan begitu sejarah terus bergerak.”

Oleh karena pemuda tenaga sejarah, maka sejarah itu kata Bursah, selalu ditentukan oleh perubahan anak muda.

“Apalagi saat ini di Indonesia, bahkan di dunia sudah ada gejala yang disebut milenial, yaitu satu istilah yang menghubungkan generasi dibawah 40 tahun di awal milenium, yaitu usia antara 18 dan 38 tahun seperti yang dirumuskan oleh William Strauss dalam Next Great Generation pada tahun 90-an,” tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Bursah menyebut tingginya jumlah generasi milenial di Indonesia yang mencapai hingga 70 juta orang.
“Generasi milenial ini adalah generasi yang sangat besar di dalam struktur populasi penduduk kita. Di Indonesia, diperkirakan walaupun belum ada satu data yang akurat masih simpang siur, tapi dipastikan ada 70 juta milenial,” ujarnya.

Oleh karenanya, dengan jumlah yang sangat besar tersebut, melalui Rakornas dan Lokakarya ini, Bursah berharap kaum muda, khususnya generasi milenial turut terlibat dan aktif dalam memikirkan sejarah perjalanan bangsa. Dari lokakarya ini mesti dirumuskan pola untuk mewujudkan hal tersebut.

“Prototype ini sangat berbeda dengan generasi-generasi terdahulu, seperti generasi saya. Kalau generasi saya ini tangguh, meskipun nggak makan 3 hari, bisa. Tapi kalau generasi milenial ini tidak bisa, dia harus makan 5 kali sehari. Jadi karena beda generasi, kita harus mencari pola untuk merumuskan teori baru supaya anak milenial ini bisa mau diajak mengenal lingkungan, dia peduli dengan masa depan bangsanya,” paparnya.

Komentar Anda

Berita Terkini