|

Bursah Zarnubi Ajak Pemuda Rumuskan Kembali Strategi Kebangsaan

FaktaNews.id - Ketua Umum Perkumpulan Gerakan Kebangsaan Bursah Zarnubi mengajak ratusan aktivis muda untuk merumuskan kembali strategi dalam membangun bangsa ini. Sebab selama 73 tahun merdeka, orientasi pembangunan bangsa ini tidak menentu.

“Kita harus merumuskan strategi kebangsaan kita, setidak-tidaknya bagaimana kita merumuskan strategi kebudayaan untuk melindungi diri kita dari kebijakan kebangsaan yang disorientasi dari cita pembangunan kita,” kata Bursah dalam sambutannya saat membuka Rakornas Perkumpulan Gerakan Kebangsaan di Hotel Redtop, Jakarta, 16 Desember 2018.

“Hampir 73 tahun orientasi bangsa kita tidak menentu, siapa saja setiap presidennya, baik itu orientasi ekonomi, politik, maupun peletakan dasar-dasar sistem kelembagaan kita,” lanjutnya.

Menurut Bursah, meskipun bangsa ini sudah mengalami jatuh bangun dalam perjalanannya, namun belum menemukan suatu sistem yang  kokoh sejak kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

“Jatuh bangun bangsa kita tidak pernah menemukan suatu sistem yang solid, baik sistem politik ataupun ekonomi kita dari zaman Bung Karno. Bahkan beberapa tahun setelah kemerdekaan RI, yakni pada tahun 50-an, kita sudah cekcok tentang sistem tata negara kita sehingga kita tidak bisa menyelesaikan satu sistem yang kokoh bagi bangsa kita,” jelasnya.

Meskipun Pancasila kokoh kata Bursah, namun berbagai kebijakan di pembangunan bangsa ini jauh dari nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu dia khawatir jika tidak ada perbaikan bangsa ini hanya akan tinggal sejarah saja.

“Yang kokoh hanya Pancasila, tetapi praktek-praktek ekonomi kita, praktek-praktek politik kita jauh dari apa yang disebut falsafah Pancasila, dan kita mesti jujur kalau tidak jujur kita masuk pada jurang sejarah yang akhirnya membuat bangsa ini tinggal situsnya saja,” tegasnya.
Bursah kemudian mengutip pendapat Richard Robinson dalam bukunya “Negara Gagal”.

Salah satu alasan negara gagal menurutnya adalah karena gagalnya sebuah negara melembagakan satu sistem tata negara.

“Selain itu juga gagal melembagakan sistem kebudayaan, etik, hukum, ekonomi, dan politik di samping kegagalan cara pandang kita melihat perubahan. Nah, karena itu PGK ini harus beranjak dari sana,” katanya.

Kaum Milenial Harus Peduli Bangsanya
Dalam kesempatan ini, Bursah Zarnubi juga mengkritik kaum milenial, yaitu anak-anak muda yang berusia antara 18 hingga 38 tahun. Bursah mengkritik karena banyak dari mereka yang tidak peduli dengan nasib dan perjalanan bangsanya.

“Bagi bangsa ini sangat memprihatinkan ada satu populasi yang sangat besar, yaitu generasi milenial yang tidak memperhatikan tentang nasib bangsanya. Kalau kita tidak berpartisipasi mengenali dan mengisi pembangunan ini, kita akan sama-sama menghilangkan bangsa ini dalam sejarah dunia,” kata Bursah.

“Jadi satu bangsa tenggelam bukan karena perang saja atau karena bencana alam, tapi karena tidak ada keterlibatan satu generasi yang memperbaharui pemikiran, yang memperbaharui kebudayaan dan peradaban dirinya, karena ada satu generasi yang tidak ikut terlibat memikirkan masa depan bangsanya.”

Bursah kemudian mengutip seorang futurolog Alvin Toffler. Pada tahun 1970, ia menulis Trilogi buku, yaitu “Kejutan Masa Depan”, “Gelombang Ketiga”, dan “Powershift”.

“Buku ini tiga serangkai seperti meramal masa depan. Dia seorang futurolog tapi juga ahli filsafat, ahli sosiologi tapi dia bukan beramal. Apa yang dia tulis tahun 70an, saat ini jadi kenyataan, bahwa revolusi industri ke depan ini akan dipengaruhi oleh teknologi digital. Saya dulu tidak terbayang akan seperti ini setelah saya membaca buku itu,” ujarnya.

Ia membandingkan dengan Revolusi Pertanian yang baru terjadi 2400 tahun kemudian, yaitu perubahan teknologi pertanian dari tenaga manusia sedikit berubah ke mesin. Lalu kemudian berubah lagi ke mesin uap.

“Pada revolusi industri yang paling cepat itu dalam revolusi industri revolusi pertama itu dikatakan oleh Alvin Toffler adalah dari tahun 1750 sampai 1850, jadi hanya 100 tahun, yaitu perubahan ketika ditemukannya mesin uap sehingga seluruh produksi itu menjadi massal, mesin tenun, mesin cetak,” jelasnya.

Komentar Anda

Berita Terkini